MAKALAH
TEORI KEPRIBADIAN

Di susun oleh :
Anggun safitri
1105095001
FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2011
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat, bimbingan, petunjuk dan
penyertaan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “
KEPRIBADIAN” dengan baik.
Saya mengucapkan banyak terimakasih
kepada pihak – pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini baik
itu teman-teman, dosen dan semua yang telah membantu yang kami tidak bisa sebut
satu persatu.
Besar harapan kami bahwa makalah
ini dapat bernilai baik, dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya.Kami
menyadari bahwa makalah yang kami susun ini belumlah sempurna untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran dalam rangka penyempurnaan untuk pembuatan
makalah selanjutnya.Sesudah dan sebelumnya kami ucapkan terimakasih.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………............. I
DAFTAR ISI…………………………………………………………....... II
BAB 1. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG……………………………………………….... 1
B. RUMUSAN MASALAH………..……………………………………. 1
C. TUJUAN……………………………………………….……………… 2
D. MANFAAT PENULISAN……………………………………………. 2
E. METODE PENULISAN………………………………………………. 2
DAFTAR ISI…………………………………………………………....... II
BAB 1. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG……………………………………………….... 1
B. RUMUSAN MASALAH………..……………………………………. 1
C. TUJUAN……………………………………………….……………… 2
D. MANFAAT PENULISAN……………………………………………. 2
E. METODE PENULISAN………………………………………………. 2
BAB II.
PEMBAHASAN
A. IVAN PAVLOV ................................................................................... 3
B. B.F.SKINNER………........................................................................... 6
C. NEAL MILLER DAN DOLLARD ....................................................... 9
A. IVAN PAVLOV ................................................................................... 3
B. B.F.SKINNER………........................................................................... 6
C. NEAL MILLER DAN DOLLARD ....................................................... 9
D . ALBERT BANDURA ........................................................................... 14
E.
GORDON ALLPORT
.......................................................................... 19
F.
ABRAHAM MASLOW
....................................................................... 24
G. ARTHUR COMBS ............................................................................... 31
H. CARL ROGERS ................................................................................... 34
I.
RAYMOND BERNARD CATTEL ..................................................... 37
J.
HANS EYSENCK ...........................………………………………… 40
BAB III. PENUTUP
A. KESIMPULAN…………………………….......….............................. 47
B. SARAN………………………………………………………............. 48
BAB III. PENUTUP
A. KESIMPULAN…………………………….......….............................. 47
B. SARAN………………………………………………………............. 48
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………..... 49
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Manusia adalah
makhluk yang kompleks, kekompleksitasan manusia itu tiada taranya di muka bumi
ini. Manusia lebih rumit dari makhluk apapun yang bisa dijumpai dan jauh lebih
rumit dari mesin apapun yang bisa dibuat. Manusia juga sulit dipahami karena
keunikannya. Dengan keunikannya, manusia adalah makhluk tersendiri dan berbeda
dengan makhluk apapun. Juga dengan sesamanya. Tetapi, bagaimanapun sulitnya
atau apapun hambatannya, manusia ternyata tidak pernah berhenti berusaha
menemukan jawaban yang dicarinya itu. Dan barang kali sudah menjadi ciri atau
sifat manusia juga untuk selalu mencari tahu dan tidak pernah puas dengan
pengetahuan-pengetahuan yang diperolehnya, termasuk pengetahuan tentang dirinya
sendiri dan sesamanya.
Sekian banyak
upaya yang telah diarahkan untuk memahami manusia. Tetapi tidak semua upaya
tersebut membawa hasil, namun upaya pemahaman tentang manusia tetap memiliki
arti penting dan tetap harus dilaksanakan. Bisa dikatakan bahwa kualitas hidup
manusia, tergantung kepada peningkatan pemahaman kita tentang manusia. Dan
psikologi, baik secara terpisah maupun sama-sama dengan ilmu-ilmu lain, sangat
berperan secara mendalam dalam penganganan masalah kemanusiaan ini.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka
rumusan masalah dari makalah ini antara lain:
1.
sebutkan biografi dan teori
kepribadian menurut para ahli berikut :
A.
Ivan pavlov
B.
B.F Skinner
C.
Neal miller dan Dollard
D.
Albert bandura
E.
Gordon allport
F.
Abraham maslow
G.
Arthur combs
H.
Carl rogers
I.
Raymond Bernard Cattell
C. Tujuan
Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan yang
dapat dirumuskan dalam pembuatan makalah ini antara lain untuk mengetahui biografi dan teori kepribadian menurut para ahli.
D. Manfaat Penulisan
Dari segenap pembahasan yang telah dipaparkan,
harapan yang ingin diwujudkan dalam makalah ini tercakup secara teoretis dan
secara praktis yang meliputi:
1. Secara teoretis
Makalah ini diharapkan berguna untuk memberikan
sumbangan terhadap usaha peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan.
2. Secara praktis
Tujuan praktis dari makalah ini adalah: meningkatkan
pengetahuan mahasiswa Pendidikan Guru.Universitas negeri mulawarman samarinda
tentang teori kepribadian serta biografi beberapa para ahli.
E. Metodologi Penulisan
Metode yang digunakan penulis dalam penulisan
makalah ini antara lain:
1. Studi kepustakaan
Dengan memanfaatkan buku-buku bimbngan dan konseling
2. Studi elektromedia
Dengan
memanfaatkan fasilitas Internet dan situs-situs pendukung guna memperoleh
referensi sekunder.
BAB II
PEMBAHASAN
TEORI
KEPRIBADIAN MENURUT PARA AHLI
1. IVAN PAVLOV
A.
BIOGRAFI
Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) adalah seorang
behavioristik terkenal dengan teori pengkondisian asosiatif stimulus-respons
dan hal ini yang dikenang darinya hingga kini. Ia tidak pernah memiliki
hambatan serius dalam sepanjang kariernya meskipun terjadi kekacauan dalam
revolusi rusia.
Pavlov lahir di kota kecil di Rusia tengah, anak seorang pendeta ortodoks pedesaan.
Pada awalnya ia berniat mengikuti jejak ayahnya, namun mengurungkan dan pergi
ke universitas di St. Petersburg untuk mengajar pada tahun 1870. Dari sinilah
karir seorang pavlov mulai berjalan hingga ia memimpin institut Fisiologi
Pavlovian di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.
Ia menemukan bahwa ia dapat menggunakan stimulus
netral, seperti sebuah nada atau sinar untuk membentuk perilaku (respons).
Dalam hal ini, eksperimen yang dilakukan pavlov menggunakan anjing sebagai
subyek penelitian.
Teori classical
conditioning
Classical conditioning yang juga
disebut sebagai teori contiguity ( keterkaitan dua obyek atau
lebih tanpa diselingi hal lain) dikembngkan oleh fisiologi Rusia, Ivan
Petrovich Pavlov ( 1894- 1936).Dalam pengembangan teori ini , Pavlov melakukan
serangkaian percobaan. Berikut adalah percobaan atau eksperimen yang dilakukan
oleh Pavlov.
Dalam eksperimen ini menunjukan
makanan kepada anjing yang kemudian memakan makanan itu. Setiap ditunjukan
makanan, anjing itu mengeluarkan air liur. Tampak bahwa makanan tersebut
sebagai Stimulus ( UCS) menyebabkan respon ( R ), keluarnya air liur. Pada
percobaan berikutnya bel dibunyikan sebelum makanan ditunjukan kepada anjing.
Setelah beberapa percobaan, anjing mulai mengeluarkan air liur sebagai respons
terhadap bunyi bel saja. dengan kata lain anjing tersebut telah terkondisi (
terbiasa ) untuk memindahkan ( mentrasferkan ) responnya, dalam hal ini
keluarnya air liur dari stimulus adalah wajar, yakni makanan ke stimulus yang
terkondisi ( conditioned stimulus) dalam hal ini bunyi bel.
APLIKASI TORI PAVLOV DALAM PENDIDIKAN
• Menjadikan lingkungan
belajar yang nyaman dan hangat, sehingga kelas menjadi satu kesatuan (saling berhubungan) dengan emosi positf (adanya
hubungan persahabatan/kekerabatan)
• Pada awal masuk kelas,
guru tersnyum dan sebagai pembukaan bertanya kepada siswa tetang kabar
keluarga, hewan peliharaan/hal pribadi dalam hidup mereka.
• Guru berusaha agar siswa
merespek satu sama lain pada prioritas tinggi di kelas, misalnya, pada diskusi kelas guru merangsang siswa untuk berpendapat
• Pada sesi tanya jawab, guru
berusaha membuat siswa berada dalam situasi yang nyaman dengan memberikan hasil
(positf outcome – masukn positif).
Conditioning Klasik (Classical
Conditioning) IVAN PAVLOV
Conditioning adalah suatu bentuk
belajar yang kesanggupan untuk berespon terhadap stimulus tertentu dapat
dipindahkan pada stimulus lain. Prinsip dasar dari model conditioning klasik
adalah sebuah unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), dan
conditioned stimulus (CS). US merupakan objek dalam lingkungan organisme yang
secara otomatis diperoleh tanpa harus mempelajarinya terlebih dahulu atau bisa
dikatakan sebagai proses yang nyata (UR). Sebagai contoh yang diberikan Pavlov
yaitu anjing, anjing meneteskan air liurnya (UR) melihat sebuah tulang
(US); seorang anak menangis (UR)
ketika melihat sekor gorilla (US);
seorang anak tertawa (UR) ketika ia melihat badut (US). UR terbentuk
secara otomatis ketika respons tersebut berhadapan
dengan US. Reaksi atau respon
ini dinamakn respons alami. Conditioning klasik
timbul ketika stimulus netral sebelumnya (CS) mampu menimbulkan respons yang
nyata atau terlihat dengan sendirinya. Hal ini terjadi melalui pemasangan yang
berulang-ulang antara US dan CS; dan CS disajikan pada waktu yang bersamaan
dengan US. Pasangan ini masing-masing akan menghasilkan UR, karena UR merupakan
respons alami terhadap US. Conditioning klasik diperoleh ketika US tidak
diperoleh, CS dapat menghasilkan UR dari
organisme tersebut. Dengan menerapkan
strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara
mengganti stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang
diinginka , sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh
stimulus yang berasal dari luar dirinya.
APLIKASI CONDITIONING KLASIK
Anak-anak mengasosiakan dokter
dengan suntikan yang memyakitkan dan menangis ketika berjalan memasuki ruang
praktik. Dalam kasus ini, suntikan merupakan US dan si dokter adalah CS.
Sesuatu yang pada mulanya tidak membangkitkan respons “alamiah”, selanjutnya
menimbulkan hal itu karena adanya pengasosiasian.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihan
Di saat
individu tidak menyadari bahwa ia
dikendalikan oleh stimulus yangberasal
dari luar dirinya, akan memudahkan
pendidik dalam melakukan pembelajaran terhadap anak didik
tersebut.
Kekurangan
Jika ini dilakukan secara terusmenerus
maka ditakutkan murid akan memiliki rasa ketergantungan
atas stimulus yang berasal dari luar dirinya. Padahal seharusnya anak didik
harus memiliki stimulus dari dirinya sendiri dalam melakukan kegiatan belajar
dan kegiatan pemahaman
2. B.F SKINNER
A.
BIOGRAFI
Skinner adalah anak dari seorang
pengacara bernama Wiliam Skinner dan Grace Mange Skinner, ia lahir pada
tanggal 20 Maret 1904.Setelah wisuda, ia menekuni dunia tulis menulis sebagai
profesinya selama dua tahun. Pada tahun 1928, ia melamar masuk program pasca
sarjana psikologi Universitas Harvard. Ia memperoleh
MA pada tahun 1930 dan Ph.D pada tahun 1931. Pada tahun 1945, dia menjadi
kepala departemen psikologi Universitas Indiana. Kemudian 3 tahun kemudian,
tahun 1948, dia diundang untuk datang lagi ke Universitas Harvard.Di
Universitas tersebut dia menghabiskan sisa karirnya.
Skinner adalah seseorang yang
aktif dalam berbagai kegiatan, seperti melakukan berbagai penelitian,
membimbing ratusan calon doktor, dan menulis berbagai buku. Meski tidak sukses
sebagai penulis buku fiksi dan puisi, ia menjadi salah satu penulis psikologi
terbaik. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Walden II. Pada tanggal 18
Agustus 1990, Skinner
meninggal dunia karena penyakit Leukemia.
b. Teori
kepribadian skinner
Behaviorisme telah menjadi salah
satu dari wawasan utama dalam psikologi modern. Behaviorisme radikal menegaskan
bahwa hanya perilaku diamati harus disertakan dalam teori ilmiah. Sejarahnya,
ini merupakan suatu keberangkatan dari metode instropective Titchener dan
metode psycoanalytic dari Freud dan masih berfungsi sebagai pengingat untuk
menghadiri apa yang orang benar-benar melakukan serta dengan keadaan dimana
mereka melakukannya.
Prinsip dasar Behaviorisme
1.Behavior is Lawful, Ilmu adalah usaha untuk menemukan keteraturan, menunjukkan bahwa peristiwa tertentu berhubungan secara teratur dengan peristiwa lain.
2.Behavior can be Predicted, Ilmu bukan hanya menjelaskan tetapi juga meramalkan. Bukan hanya menangani peristiwa masa lalu tetapi juga masa yang akan datang.
3.Behavior can be Controlled, Ilmu dapat melakukan antisipasi dan menentukan atau membentuk tingkah laku seseorang.
Prinsip dasar Behaviorisme
1.Behavior is Lawful, Ilmu adalah usaha untuk menemukan keteraturan, menunjukkan bahwa peristiwa tertentu berhubungan secara teratur dengan peristiwa lain.
2.Behavior can be Predicted, Ilmu bukan hanya menjelaskan tetapi juga meramalkan. Bukan hanya menangani peristiwa masa lalu tetapi juga masa yang akan datang.
3.Behavior can be Controlled, Ilmu dapat melakukan antisipasi dan menentukan atau membentuk tingkah laku seseorang.
Skinner
bukan hanya ingin tahu bagaimana terjadinya perilaku tetapi juga ingin
memanipulasinya. Skinner memandang tingkah laku sebagai produk kondisi
anteseden tertentu dan menganggap kemampuan memanipulasi kehidupan dan tingkah
laku manusia. Keberhasilan mengontrol kejadian atau tingkah laku manusia
merupakan bukti kebenaran suatu teori. Skinner memahami dan mengontrol tingkah
laku menggunakan teknik analisis fungsional tingkah laku (Functional analysis
of behavior) yaitu suatu analisis tingkah laku dalam bentuk hubungan sebab
akibat, bagaimana suatu respon timbul mengikuti stimuli atau kondisi tertentu
Skinner adalah seorang behavioris
kuat yang yakin akan pentingnya metode obyektif, keketatan eksperimental dan
kapasitas eksperimen yang anggun serta ilmu pengetahuan induktif untuk
memecahkan masalah-masalah tingkah laku yang paling kompleks. Salah satu ciri
yang membedakan pandangan Skinner adalah ketidaksukaan Skinner pada teori
formal dan penolakannya terhadap pendekatan postulat teori yang dipakai Hull
dalam membangun teorinya. Ciri khusus yang lain, adalah penekanannya pada
penelitian tentang respon-respon yang tidak harus dibangkitkan oleh stimulus
(operan) tetapi sangat dipengaruhi oleh akibat-akibat dari respon-respon itu
sendiri.
struktur kepribadian
struktur kepribadian
Strukutur kepribadian atau
klasifikasi pokok menurut Skinner ada 2 yaitu reflex responden dan reflex
operant.). Operant adalah sesuatu yang dihasilkan, dalam arti organisme
melakukan sesuatu untuk menghilangkan stimulus yang mendorong langsung atau
perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang tidak jelas tetapi semata-mata
ditimbulkan oleh organisme itu sendiri (dilakukan tanpa adanya stimulus
penyebab). Contohnya, seekor tikus lari keluar dari labirin atau seseorang yang
keluar dari pintu. Respondent adalah sesuatu yang dimunculkan, dimana organisme
menghasilkan sebuah responden sebagai hasil langsung dari stimulus spesifik atau
perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang jelas (responden dibangkitkan oleh
stimulus yang diketahui). Contohnya, seekor anjing yang mengeluarkan air liur
ketika melihat dan mencium bau makanan atau seseorang yang mengedip ketika
udara ditiupkan ke matanya.
dinamika kepribadian
1.classical conditioning, kondisioning responden karena tingkah laku yang dipelajari menggunakan hubungan stimulus respon yang bersifat refleks bawaan.
2.operant conditioning, respon yang ada karena organismenya sendiri yang melakukan dan ada konsekuensinya.
3.reinforcement, positif reinforcement dan negatif reinforcement
dinamika kepribadian
1.classical conditioning, kondisioning responden karena tingkah laku yang dipelajari menggunakan hubungan stimulus respon yang bersifat refleks bawaan.
2.operant conditioning, respon yang ada karena organismenya sendiri yang melakukan dan ada konsekuensinya.
3.reinforcement, positif reinforcement dan negatif reinforcement
perkembangan kepribadian
Teori Skinner adalah tentang
perubahan tingkah laku, belajar, dan modifikasi tingkah laku. Skinner yakin
bahwa pemahaman tentang kepribadian akan tumbuh dari perkembangan tingkah laku
manusia dalam interaksinya yang terus menerus dengan lingkungannya.Skinner
tidak melihat alasan untuk membagi proses perkembangan ke dalam beberapa tahap.
Ia juga tidak memberikan importansi khusus pada pengalaman-pengalaman masa
kanak-kanak. Skinner memandang pengaruh eksternal lebih dominan dalam membentuk
tingkah laku.
1.Penghapusan
Penghapusan atau extinction terjadi ketika kita mencabut penguat dari suatu pengkondisian operan. Penghapusan (extinction) adalah berkurangnya kecenderungan untuk merespon yang terjadi apabila perkuatan yang mengikuti respon tersebut tidak ada lagi.
2.Stimulus Penghukum (punishing stimulus)
Adalah stimulus aversif yang bila terjadi sesudah berlangsungnya sebuah respon operan akan mengurangi kemungkinan terjadinya respon tersebut di masa mendatang.ada 2 macam : positif dan negatif punishment
3.Schedule of Reinforcement
macamnya : Continuous Reinforcement (Penguatan Berkelanjutan),Fixed Interval (Interval Tetap),Fixed Ratio (Perbandingan Tetap),Variable Interval (Interval Berubah),Variable Ratio (Perbandingan Berubah).
4.Generalisasi dan diskriminasi
Generalisasi Stimulus (Stimulus Generalization) adalah proses timbulnya respon dari stimulus yang mirip dengan stimulus yang mestinya menimbulkan respon itu. Sedangkan diskriminasi stimulus (Stimulus Discrimination) adalah kemampuan untuk membedakan stimulus, sehingga stimulus itu tidak diberi respon, walaupun mirip dengan stimulus yang diberi penguat.
aplikasi
1.tingkah laku abnormal, Tingkah laku abnormal dapat diubah menjadi normal dengan cara memanipulasi lingkungan
2.modifikasi perilaku,
§ Flooding adalah pendekatan alternatif terhadap masalah untuk mencegah agar respon penghindaran itu tidak terjadi
§ Aversive Theraphy adalah stimulus yang apabila dihilangkan (Withdrawal) meningkatkan kekuatan respon yang segera mengikutinya
§ Token Economy adalah pemerkuat terkondisi untuk menjembatani antara saat ketika respon yang dinginkan dilakukan dan ketika perkuatan tak terkondisinya terjadi.
1.Penghapusan
Penghapusan atau extinction terjadi ketika kita mencabut penguat dari suatu pengkondisian operan. Penghapusan (extinction) adalah berkurangnya kecenderungan untuk merespon yang terjadi apabila perkuatan yang mengikuti respon tersebut tidak ada lagi.
2.Stimulus Penghukum (punishing stimulus)
Adalah stimulus aversif yang bila terjadi sesudah berlangsungnya sebuah respon operan akan mengurangi kemungkinan terjadinya respon tersebut di masa mendatang.ada 2 macam : positif dan negatif punishment
3.Schedule of Reinforcement
macamnya : Continuous Reinforcement (Penguatan Berkelanjutan),Fixed Interval (Interval Tetap),Fixed Ratio (Perbandingan Tetap),Variable Interval (Interval Berubah),Variable Ratio (Perbandingan Berubah).
4.Generalisasi dan diskriminasi
Generalisasi Stimulus (Stimulus Generalization) adalah proses timbulnya respon dari stimulus yang mirip dengan stimulus yang mestinya menimbulkan respon itu. Sedangkan diskriminasi stimulus (Stimulus Discrimination) adalah kemampuan untuk membedakan stimulus, sehingga stimulus itu tidak diberi respon, walaupun mirip dengan stimulus yang diberi penguat.
aplikasi
1.tingkah laku abnormal, Tingkah laku abnormal dapat diubah menjadi normal dengan cara memanipulasi lingkungan
2.modifikasi perilaku,
§ Flooding adalah pendekatan alternatif terhadap masalah untuk mencegah agar respon penghindaran itu tidak terjadi
§ Aversive Theraphy adalah stimulus yang apabila dihilangkan (Withdrawal) meningkatkan kekuatan respon yang segera mengikutinya
§ Token Economy adalah pemerkuat terkondisi untuk menjembatani antara saat ketika respon yang dinginkan dilakukan dan ketika perkuatan tak terkondisinya terjadi.
B.
NEAL MILLER dan DOLLARD
A. Biografi John Dollard
dan Neal E. Miller
John
Dollard lahir di Menasha, Wisconsin pada 29 Agustus 1900. Beliau menempuh
pendidikan di Universitas Wisconsin dan mendapat gelar A. B. pada tahun 1922,
pada tahun yang sama Dollard belajar di Universitas Chicago hingga memperoleh
gelar A. M. pada tahun 1930 dan Ph. D dalam bidang sosiologi pada tahun 1931.
Selama
kurun waktu 1926 sampai 1929 beliau menjadi salah satu pembantu rektor
Universitas Chicago. Sempat belajar di Jerman untuk beberapa tahun, Dollard
kemudian menerima tugas penelitian di Institute of Human Relations di
Universitas Yale pada 1932. Selanjutnya diangkat menjadi profesor Psikologi
pada tahun 1952.
Keyakinan
Dollard dan dedikasi pribadinya terhadap penyatuan ilmu-ilmu pengetahuan sosial
tercermin dalam tulisan-tulisan dan tugas akademik pada bidang antropologi,
sosiologi, dan psikologi yang pernah diembannya dalam satu universitas.
Neal
E. Miller dilahirkan di Milwaukee, Wisconsin pada tanggal 3 Agustus 1909. Gelar
B. S. dari Universitas Washington diperoleh pada tahun 1931, gelar M. A. Dari
Universitas Stanford pada 1932, dan Ph. D pada bidang psikologi dari
universitas Yale pada tahun 1935. Sejak tahun 1932 sampai 1935 Miller menjadi
asisten bidang psikologi di Institute of Human Relations dan antara tahun 1935
sampai 1936 mendapat beasiswa pendidikan analisis di Institut Psikoanalisis Wina.
Selain
karena bekerja sama dengan Dollard, Miller juga sangat terkenal di kalangan
psikolog karena karya eksperimental dan teoritisnya tentang proses memperoleh
dorongan-dorongan, hakikat perkuatan, dan penelitian tentang konflik.
Penelitian awalnya semata bersifat behavioral, tetapi sejak tahun 1950-an,
Miller mulai menaruh perhatian pada mekanisme fisiologis yang mendasari
dorongan, perkuatan, serta gejala sejenisnya.
Dollard
dan Miller bekerja sama di Institute of Human Relations Universitas Yale mengembangkan
pendekatan interdisiplin 3 bidang ilmu, yaitu teori belajar, psikoanalitik dan
antropologi sosial. Teori Dollard dan Miller banyak dipengaruhi oleh teori
Hull-Spencer yang terutama menangani peran motivasi dalam tingkah laku dan
bagaimana motivasi belajar dapat diperoleh. Dollard dan Miller berusaha
menjelaskan konsep-konsep penting dari psikoanalitik seperti
kecemasan-konflik-represi, menggunakan prinsip-prinsip psikologi belajar dan
kondisi sosial dari belajar.
Inti
teori Dollard dan Miller merupakan suatu deskripsi tentang proses belajar.
Teori belajar, dalam bentuknya yang paling sederhana, merupakan studi tentang
keadaan-keadaan di mana hubungan antara suatu respon dan suatu stimulus isyarat
terbentuk. Belajar terjadi menurut prinsip-prinsip psikologis tertentu. Latihan
tidak selalu membuat sempurna.
Individu yang belajar harus merasa terdorong untuk melakukan respon dan harus dihadiahi karena telah memberikan respon pada saat isyarat muncul. Secara sederhana, untuk belajar individu harus menginginkan sesuatu, memperhatikan sesuatu, berbuat sesuatu, dan memperoleh sesuatu. Prinsip-prinsip belajar yang diterapkan Dollard dan Miller dalam kehidupan sehari-hari ditemukan dalam penelitian laboratorium terkontrol yang umumnya menggunakan binatang sebagai subjek.
B. Teori Kepribadian Sosial Dollar dan Miller
Ø Struktur Kepribadian
Dollard dan Miller menyerahkan tugas menentukan kebiasaan-kebiasaan khas masing-masing individu kepada peneliti lain. Sedangkan mereka sendiri lebih memusatkan bahasan mengenai proses belajar. Namun, keduanya menekankan bahwa segolongan kebiasaan yang penting bagi individu dihasilkan oleh stimulus verbal, baik dari individu itu sendiri maupun dariorang lain, dan responnya seringkali juga bersifat verbal.
Selain itu, Dollard dan Miller juga mempertimbangkan dorongan sekunder (secondary drive), seperti rasa takut, sebagai bagian dari kepribadian yang relatif stabil. Menurut mereka, dorongan primer (primary drive) dan hubungan S-R yang bersifat bawaan (innate) juga menyumbang struktur kepribadian, walaupun kurang penting dibandingkan habit dan dorongan sekunder, karena dorongan primer dan hubungan S-R bawaan ini menentukan taraf umum seseorang, bukan membuat seseorang menjadi unik
Ø Dinamika Kepribadian
1. Motivasi -Dorongan (Motivation-Drives)
Dollard dan Miller juga mengemukakan bahwa bukan hanya dorongan sekunder, tapi hadiah atau penguat yang primer ternyata juga diganti dengan hadiah atau penguat sekunder, misalnya, senyum orang tua secara bijak terus menerus dihubungkan dengan aktivitas pemberian makanan, penggantian popok dan aktivitas pemberian kenyamanan lainnya. Senyum akan menjadi hadiah sekunder yang sangat kuat bagi bayi sampai dewasa.
Dollard dan Miller setuju dengan Freud yang memandang kecemasan adalah tanda bahaya, semacam antisipasi menghindari rasa sakit (yang pernah dialami pada masa lalu). Behaviorisme menjelaskan perolehan kecemasan sebagai tanda bahaya itu diperoleh melalui proses kindisioning klasik.
2. Proses Belajar
Sebagian besar dorongan sekunder dipelajari melalui rasa takut dan anxiety. Untuk bisa blajar orang harus want something, notice something, do something, get something yang menjadi empat komponen utama belajar: drive, cue, response, reinforcement.
3. Proses Mental Yang Lebih Tinggi
Ø Perluasan Stimulus Respon
Dollard dan Miller teori belajar bukan hanya menjelaskan tingkah laku yang sederhana, tetapi juga hal-hal yang makna dan terapannya berkaitan dengan persoalan kepribadian yang kompleks.
Ø Generalisasi Stimulus
Menurut Dollar dan Miller, ada dua tipe interaksi individu dengan lingkungannya. Pertama, interaksi yang umumnya memiliki reapon berdampak segera (immediate effect) dan dituntun oleh cue. Kedua, respon menghasilkan isyarat (cue-producing response) yang membuka jalan terjadinya generalisasi atau diskriminasi.
Ø Reasoning
Cue producing response umumnya terjadi melalui sejumlah event internal yang disebut alur berpikir (train of thought). Reasoning pada dasarnya merupakan pengganti perbuatan nyata menjadi cue-producing response yang lebih efisien untuk memecahkan masalah daripada berbuat mencoba-coba. Reasoning memungkinkan orang menungkat proses pemilihan tindakan.
Ø Bahasa
Dollard dan Miller sangat mementingkan peran bahasa dalam motivasi, hadiah, dan pandangan ke depan. Kata mampu membangkitkan drive atau memberi jaminan. Kata dapat berfungsi sebagai pengatur waktu; kata dapat menguatkan tingkah laku sekarang secara verbal. Jelasnya, intervensi verbal telah membuat tingkah laku manusia menjadi lebih kompleks
Ø Secondary Drive
Umumnya drive sekunder bersifat rentan, manakala drive itu berulang-ulang gagal. Anak yang gagal mendapat pujian dari orang tua karena usahanya akan lama-lama berhenti mencoba meraih prestasi, beda halnya dengan seseorang yang haus,ia tidak akan berhenti mencari air walaupun terus menerus gagal. Namun ada juga drive sekunder yang mantab, bahkan mengalahkan drive primer, misalnya nilai kebenaran dan integritas.
Ø Model Konflik
Ada tiga macam konflik, yaitu konflik approach-avoindance (pilihan bernilai positif dan bernilai negatif), konflik avoindance-avoidance (pilihan bernilai negatif-negatif), dan konflik approach-approach (pilihan bernilai positif-positif).
Ø Ketidaksadaran
Dollard dan Miller memandang penting faktor ketidaksadaran tetapi berbeda dengan Freud. Keduanya membagi isi ketidaksadaran menjadi dua. Pertama, ketidaksadaran berisi hal yang tidak pernah disadari, seperti; stimuli, drive, dan respon yang dipelajari bayi sebelum bisa berbicara sehingga tidak memiliki label verbal. Kedua, berisi apa yang pernah disadari tetapi tidak bertahan dan menjadi tidak disadari karena adanya represi. Kesadaran verbal sangat penting, karena label verbal sangat esensial dalam proses belajar. Generalisasi dan diskriminasi lebih efisien dengan memakai simbol verbal.
Individu yang belajar harus merasa terdorong untuk melakukan respon dan harus dihadiahi karena telah memberikan respon pada saat isyarat muncul. Secara sederhana, untuk belajar individu harus menginginkan sesuatu, memperhatikan sesuatu, berbuat sesuatu, dan memperoleh sesuatu. Prinsip-prinsip belajar yang diterapkan Dollard dan Miller dalam kehidupan sehari-hari ditemukan dalam penelitian laboratorium terkontrol yang umumnya menggunakan binatang sebagai subjek.
B. Teori Kepribadian Sosial Dollar dan Miller
Ø Struktur Kepribadian
Dollard dan Miller menyerahkan tugas menentukan kebiasaan-kebiasaan khas masing-masing individu kepada peneliti lain. Sedangkan mereka sendiri lebih memusatkan bahasan mengenai proses belajar. Namun, keduanya menekankan bahwa segolongan kebiasaan yang penting bagi individu dihasilkan oleh stimulus verbal, baik dari individu itu sendiri maupun dariorang lain, dan responnya seringkali juga bersifat verbal.
Selain itu, Dollard dan Miller juga mempertimbangkan dorongan sekunder (secondary drive), seperti rasa takut, sebagai bagian dari kepribadian yang relatif stabil. Menurut mereka, dorongan primer (primary drive) dan hubungan S-R yang bersifat bawaan (innate) juga menyumbang struktur kepribadian, walaupun kurang penting dibandingkan habit dan dorongan sekunder, karena dorongan primer dan hubungan S-R bawaan ini menentukan taraf umum seseorang, bukan membuat seseorang menjadi unik
Ø Dinamika Kepribadian
1. Motivasi -Dorongan (Motivation-Drives)
Dollard dan Miller juga mengemukakan bahwa bukan hanya dorongan sekunder, tapi hadiah atau penguat yang primer ternyata juga diganti dengan hadiah atau penguat sekunder, misalnya, senyum orang tua secara bijak terus menerus dihubungkan dengan aktivitas pemberian makanan, penggantian popok dan aktivitas pemberian kenyamanan lainnya. Senyum akan menjadi hadiah sekunder yang sangat kuat bagi bayi sampai dewasa.
Dollard dan Miller setuju dengan Freud yang memandang kecemasan adalah tanda bahaya, semacam antisipasi menghindari rasa sakit (yang pernah dialami pada masa lalu). Behaviorisme menjelaskan perolehan kecemasan sebagai tanda bahaya itu diperoleh melalui proses kindisioning klasik.
2. Proses Belajar
Sebagian besar dorongan sekunder dipelajari melalui rasa takut dan anxiety. Untuk bisa blajar orang harus want something, notice something, do something, get something yang menjadi empat komponen utama belajar: drive, cue, response, reinforcement.
3. Proses Mental Yang Lebih Tinggi
Ø Perluasan Stimulus Respon
Dollard dan Miller teori belajar bukan hanya menjelaskan tingkah laku yang sederhana, tetapi juga hal-hal yang makna dan terapannya berkaitan dengan persoalan kepribadian yang kompleks.
Ø Generalisasi Stimulus
Menurut Dollar dan Miller, ada dua tipe interaksi individu dengan lingkungannya. Pertama, interaksi yang umumnya memiliki reapon berdampak segera (immediate effect) dan dituntun oleh cue. Kedua, respon menghasilkan isyarat (cue-producing response) yang membuka jalan terjadinya generalisasi atau diskriminasi.
Ø Reasoning
Cue producing response umumnya terjadi melalui sejumlah event internal yang disebut alur berpikir (train of thought). Reasoning pada dasarnya merupakan pengganti perbuatan nyata menjadi cue-producing response yang lebih efisien untuk memecahkan masalah daripada berbuat mencoba-coba. Reasoning memungkinkan orang menungkat proses pemilihan tindakan.
Ø Bahasa
Dollard dan Miller sangat mementingkan peran bahasa dalam motivasi, hadiah, dan pandangan ke depan. Kata mampu membangkitkan drive atau memberi jaminan. Kata dapat berfungsi sebagai pengatur waktu; kata dapat menguatkan tingkah laku sekarang secara verbal. Jelasnya, intervensi verbal telah membuat tingkah laku manusia menjadi lebih kompleks
Ø Secondary Drive
Umumnya drive sekunder bersifat rentan, manakala drive itu berulang-ulang gagal. Anak yang gagal mendapat pujian dari orang tua karena usahanya akan lama-lama berhenti mencoba meraih prestasi, beda halnya dengan seseorang yang haus,ia tidak akan berhenti mencari air walaupun terus menerus gagal. Namun ada juga drive sekunder yang mantab, bahkan mengalahkan drive primer, misalnya nilai kebenaran dan integritas.
Ø Model Konflik
Ada tiga macam konflik, yaitu konflik approach-avoindance (pilihan bernilai positif dan bernilai negatif), konflik avoindance-avoidance (pilihan bernilai negatif-negatif), dan konflik approach-approach (pilihan bernilai positif-positif).
Ø Ketidaksadaran
Dollard dan Miller memandang penting faktor ketidaksadaran tetapi berbeda dengan Freud. Keduanya membagi isi ketidaksadaran menjadi dua. Pertama, ketidaksadaran berisi hal yang tidak pernah disadari, seperti; stimuli, drive, dan respon yang dipelajari bayi sebelum bisa berbicara sehingga tidak memiliki label verbal. Kedua, berisi apa yang pernah disadari tetapi tidak bertahan dan menjadi tidak disadari karena adanya represi. Kesadaran verbal sangat penting, karena label verbal sangat esensial dalam proses belajar. Generalisasi dan diskriminasi lebih efisien dengan memakai simbol verbal.
4. Perkembangan Kepribadian
A.
Perangkat Innate :
Respon Sederhana dan Primary Process
B.
Konteks Sosial
C.
Situasi Pembelajaran
D.
Tahap-Tahap Kritis Perkembangan
4. ALBERT BANDURA
A. Biografi
Albert Bandura
lahir 4 Desember 1925, di kota kecil Mundare, sebelah Alberta utara, Kanada.
Dia dididik di sekolah dasar dan sekolah tinggi yang menjadi satu, dengan
sumber daya yang minim, namun dengan tingkat keberhasilan yang luar biasa.
Setelah SMA, dia bekerja pada suatu musim panas untuk mengisi kekurangan di
Alaska Highway di Yukon.
Ia menerima
gelar sarjana psikologi dari University of British Columbia pada tahun 1949 dan
gelar Ph. D. Dari University of Iowa pada tahun 1952. Di sanalah ia berada di
bawah pengaruh tradisi behavioris dan teori pembelajaran. Sementara di Iowa, ia
bertemu Virginia Varns, seorang instruktur di sekolah keperawatan. Mereka
menikah dan memiliki dua orang putri. Setelah lulus, ia mengambil posisi
postdoctoral di Wichita Guidance Center, Kansas.
Pada tahun
1953, ia mulai mengajar di Standford University. Ia bekerja sama dengan
mahasiswa lulusan pertama, Richard Walters, menghasilkan karya pertama mereka,
Adolescent Aggression, tahun 1959. Bandura adalah presiden APA (American
Psychological Association) pada tahun 1973 dan menerima penghargaan APA untuk
Kontribusi Ilmiah Terkemuka tahun 1980. Di masih bekerja di Stanford hingga
saat ini.
B.Teori
Behaviorisme, dengan tekanannya
pada metode eksperimen, terfokus pada variabel yang dapat kita amati, ukur, dan
manipulasi, dan menghindari apapun yang bersifat subjektif, internal, dan tidak
tersedia – mental. Pada metode eksperimen, prosedur standarnya adalah
memanipulasi satu variabel, kemudian mengukur dampaknya pada yang lain. Semua
ini bermuara pada suatu teori kepribadian yang menyatakan bahwa lingkungan
mempengaruhi perilaku seseorang.
Bandura berpikir bahwa ini agak
terlalu sederhana untuk fenomena yang sedang ia amati – agresi pada remaja –
dan memutuskan untuk menambahkan sesuatu pada rumusan di atas yaitu ia
membenarkan bahwa lingkungan menyebabkan suatu perilaku, tetapi perilaku
mempengaruhi suatu lingkungan juga. Ia menamai konsep ini sebagai reciprocal
determinism (determinisme timbal balik): dunia dan perilaku seseorang
saling menyebabkan satu sama lain.
Ada tiga konsep inti di teori pembelajaran
sosial ini. Pertama, adalah gagasan bahwa orang dapat belajar melalui
observasi, kedua, gagasan yang menyatakan mental internal merupakan bagian
penting dari proses ini. Terakhir, teori ini menyatakan bahwa hanya karena
seseorang memplajari sesuatu bukan berarti selalu terjadi perubahan dalam
perilakunya. Ketiga konsep tersebut akan diuraikan secara lebih rinci pada
uraian di bawah ini.
- Orang dapat belajar melalui observasi
Bandura mengidentifikasi tiga
model dasar pembelajarn observasional:
- Model hidup, yang melibatkan seorang individu nyata mendemostrasikan sebuah perilaku.
- Model instruksional verbal, yang melibatkan deskripsi atau penjelasan dari sebuah perilaku
- Model simbolik, yang melibatkan karakter nyata atau fiksi menampilkan perilaku dalam buku-buku, film, program televisi, atau media online.
- Keadaan mental penting untuk pembelajaran
Bandura mengemukakan bahwa
penguatan eksternal dan lingkungan bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi
pembelajaran dan perilaku. Dia menggambarkan penguatan intrinsik sebagai bentuk
penghargaan internal, seperti rasa bangga, puas, dan sensasi dari perolehan
sebuah prestasi atau pencapaian. Penekanan pada pikiran internal dan kesadaran
menjadi penghubung antara teori pembelajaran dan teori perkembangan kognitif.
Sementara banyak buku teks yang menempatkan teori pembelajaran sosial dengan
teori tingkah laku (behaviorisme), Bandura sendiri mendiskripsikan
pendekatannya sebagai “teori kognitif sosial”.
- Belajar tidak selalu mengarah pada perubahan perilaku
Penganut paham behaviorisme
percaya bahwa belajar menyebabkan perubahan permanen dalam perilaku, sedangkan
pembelajaran observasional menunjukkan bahwa orang dapat mempelajari informasi
baru tanpa menunjukkan perilaku baru.
Pembelajaran Observasional atau pemodelan
Bandura mengatakan bahwa
seseorang belajar melalui pengamatan perilaku orang lain, sikap, dan hasil dari
perilaku tersebut. “Sebagian besar perilaku manusia dipelajari dengan mengamati
melalui pemodelan: dari mengamati orang lain terbentuk gagasan tentang perilaku
baru dilakukan, dan kemudian informasi (gagasan) tersebut menjadi panduan dalam
melakukan tindakan.” (Bandura). Teori pembelajaran sosial menjelaskan perilaku
manusia dalam hal interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif,
perilaku, dan pengaruh lingkungan. Bandura menetapkan bahwa ada langkah
tertentu yang terlibat dalam proses pemodelan:
- Attention (perhatian) – jika kita ingin belajar sesuatu, kita harus memperhatikan. Apapun yang mengurangi perhatian, akan memberikan dampak negatif pada pembelajaran observasional. Misalnya kita sedang mengantuk, sakit, panik, gugup akan mengurangi perhatian kita pada apa yang sedang kita pelajari.
- Retention (penyimpanan) – Kemampuan untuk menyimpan informasi juga merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Retensi dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, tetapi kemampuan untuk memperoleh informasi dan kemudian bertidak sangat penting pada pembelajaran observasional.
- Reproduction (Reproduksi) – mereproduksi gambaran yang bisa berupa tingkah laku nyata, atau pun imajinasi ketika kita melakukan hal yang sedang kita perhatikan.
- Motivasi – Dan tentu saja, dengan semua hal di atas, kita tidak akan melakukannya jika tidak memiliki motivasi untuk mengimitasi, yaitu memiliki alasan yang tepat untuk mengimitasi. Bandura mengklasifikasikan alasan mengimitiasi menjadi hal-hal di bawah ini:
- Past reinforcement
- Promised reinforcement
- Vicarous reinforcement
Tentu saja, ada motivasi negatif,
yang memberikan kita alasan untuk tidak mengimitasi seseorang:
- Past punishment
- Promised punishment
- Vicarous punishment
Bandura percaya pada
“determinisme timbal balik”, yaitu dunia dan perilaku seseorang menyebabkan
setiap lain, sedangkan behaviorisme dasarnya menyatakan bahwa lingkungan
seseorang menyebabkan perilaku seseorang, Bandura, yang sedang belajar agresi
remaja, menemukan ini terlalu sederhana, dan di samping itu dia menyarankan
bahwa perilaku menyebabkan lingkungan juga. Kemudian, Bandura segera dianggap
sebagai kepribadian sebagai interaksi antara tiga komponen: lingkungan,
perilaku, dan proses psikologis seseorang (kemampuan seseorang untuk menghibur
gambar dalam pikiran dan bahasa).
Teori pembelajaran sosial kadang-kadang disebut sebagai jembatan antara behavioris dan teori pembelajaran kognitif karena meliputi perhatian, memori, dan motivasi. Teori ini berkaitan dengan Teori Pembangunan Sosial Vygotsky dan teori Belajar tersituasi dari Lave, yang juga menekankan pentingnya belajar sosial.
Teori pembelajaran sosial kadang-kadang disebut sebagai jembatan antara behavioris dan teori pembelajaran kognitif karena meliputi perhatian, memori, dan motivasi. Teori ini berkaitan dengan Teori Pembangunan Sosial Vygotsky dan teori Belajar tersituasi dari Lave, yang juga menekankan pentingnya belajar sosial.
Self Regulation
Self regulation (kontrol diri)
aturan yang kita tetapkan untuk mengontrol diri kita sendiri. Menurut Bandura,
ada tiga langkah yang bisa dilakukan, antara lain:
- Pengamatan diri. Kita melihat diri kita sendiri, mengenali diri sendiri.
- Penilaian. Kita membandingkan apa yang kita lihat dengan apa yang menjadi standar.
- Respon diri. Jika sudah membandingkan dengan standar, kita memberi reward jika kita kita mencapai standar, atau kita memberi punishment (hukuman) jika tidak mencapai standar. Baik reward maupun punishment, ada dua macam, yaitu yang terlihat dan yang tidak terlihat. Yang terlihat misalnya, makan-makan, jalan-jalan, ataupun berjanji tidak nonton tivi terlalu banyak. Yang tidak terlihat misalnya perasaan bangga, puas ataupun perasaan bersalah dan malu.
Menghukum diri sendiri dengan
berlebihan akan menjadikan hal yang buruk terjadi pada diri sendiri. Bandura
melihat tiga kemungkinan hasil dari menghukum sendiri yang berlebihan:
- Kompensasi, misalnya delusi.
- Tidak aktif, misalnya apatis, depresi, bosan yang berlebihan.
- Melarikan diri, misalnya dengan obat-obatan dan alkohol, atau bahkan bunuh diri.
Bandura merekomendasikan untuk
mereka yang menderita miskin konsep diri untuk mempraktekan self regulation
dengan cara sebagai berikut:
- pengamatan diri – kenali diri sendiri! Pastikan Anda memiliki gambaran yang akuran tentang perilaku Anda.
- penilaian – jangan patok standar terlalu tinggi! Sesuaikan dengan kemampuan dan usaha Anda.
- respon diri – Gunakan reward, bukan punishment. Rayakan kemenangan Anda, jangan terpaku pada kegagalan.
5. GORDON ALLPORT
A. BIOGRAFI
Gordon Allport lahir di Montezuma,
Indiana, pada 11 November 1897, anak bungsu dari empat bersaudara. Seorang anak
laki-laki pemalu dan rajin, Dia agak sedikit sering diejek dan menjalani masa kanak-kanak yang cukup
terisolasi. Ayahnya adalah seorang dokter desa, yang berarti bahwa Gordon
dibesarkan dengan ayah pasien dan perawat, dan semua perlengkapan rumah sakit
mini. Setiap orang bekerja keras. Kehidupan awal adalah dinyatakan cukup
menyenangkan dan lancar.
Salah satu yang cerita Allport
selalu disebutkan dalam biografi-nya: Ketika ia berusia 22, ia pergi ke Wina.
Dia telah berjanji untuk bertemu dengan Sigmund Freud. Ketika dia tiba di
kantor Freud, Freud hanya duduk dan menunggu Gordon untuk memulai. Setelah
sedikit, Gordon tidak bisa lagi berdiam diri, dan ia bercerita pengalamannya
dalam perjalanan untuk bertemu Freud. Dia menyebutkan bahwa ia telah melihat
anak kecil di bus yang terlihat sangat kesal karena harus duduk di mana orang
tua kotor duduk sebelahnya. Gordon berpikir ini adalah sesuatu yang mungkin
telah dipelajari dari ibunya, yang sangat rapi dan agak dominan jenis rupanya.
Freud, bukannya sebagai pengamat sederhana, membawanya menjadi ekspresi dari
beberapa yang mendalam, proses dalam pikiran bawah sadar Gordon, dan berkata "Dan
adalah bahwa anak kecil itu Anda?"
Pengalaman ini membuatnya sadar
bahwa kadang-kadang psikologi menggali terlalu dalam, dengan cara yang sama
bahwa ia sebelumnya menyadari bahwa behaviorisme sering tidak cukup menggali
secara mendalam.
Allport menerima gelar Ph.D. di
Psikologi pada tahun 1922 dari Harvard, berikut langkah-langkah kaki kakaknya
Floyd, yang menjadi seorang psikolog sosial yang penting. Karirnya
dihabiskannya untuk mengembangkan teori, memeriksa isu-isu sosial seperti sebagai
prasangka dan mengembangkan tes kepribadian. Dia meninggal di Cambridge
Massachusetts di tahun 1967.
B.
Teori
Menurut Allport Kepribadian manusia
adalah asli. Individu lebih merupakan makhluk masa kini daripada makhluk masa
lampau. Allport mempelajari individu-individu yang normal dan dengan demikian
mengembangkan suatu teori yang hampir seluruhnya mengenai Kepribadian sehat.
Allport mengemukakan teori tentang jurang antara kepibadian neurotis dan
Kepribadian sehat antara masa dewasa dan masa kanak-kanak. Allport melihat
pentingnya peningkatan dan bukan pengurangan tingkat tegangan adalah sesuai
dengan pengalaman dan pengetahuan saya sendiri tentang tokoh-tokoh sejarah.
Manusia yang hidup dan aktif membutuhkan kehidupan yang beraneka ragam,mereka
tidak puas dengan kegiatan yang rutin. Kita semua mengenal orang-orang yang
berspekulasi dan memilih kesempatan-kesempatan,yang secara aktif mencari
perangsang dan tantangan dalam kehidupan mereka.
Dalam teori Allport
antisipasi-antisipasi adalah penting dalam membantu
untuk menentukan siapa dan apakah kita ini,dalam membentuk identitas-diri kita. Mereka mengetahui diri mereka dan menerima keterbatasan-keterbatasan mereka dan tidak terpukul oleh keterbatasan itu. Tampak jelas bahwa kalau sehat memiliki suatu gambaran diri dan identitas diri yang kuat,merasakan suatu perasaan harga diri,dapat memberi cinta secara terbuka dan tanpa syarat,merasa aman secara emosional,dan memiliki tujuan-tujuan serta suatu perasaan akan maksud yang memberi arti dan arah kepada kehidupan. Allport dapat memberikan kebenaran-kebenaran kekal didukung oleh pengetahuan kita tentang kehidupan pria-wanita,wanita-wanita historis dan kontemporer,yang telah memperlihatkan sifat-sifat dan atribusi yang dilukiskan dengan begitu semangat.
untuk menentukan siapa dan apakah kita ini,dalam membentuk identitas-diri kita. Mereka mengetahui diri mereka dan menerima keterbatasan-keterbatasan mereka dan tidak terpukul oleh keterbatasan itu. Tampak jelas bahwa kalau sehat memiliki suatu gambaran diri dan identitas diri yang kuat,merasakan suatu perasaan harga diri,dapat memberi cinta secara terbuka dan tanpa syarat,merasa aman secara emosional,dan memiliki tujuan-tujuan serta suatu perasaan akan maksud yang memberi arti dan arah kepada kehidupan. Allport dapat memberikan kebenaran-kebenaran kekal didukung oleh pengetahuan kita tentang kehidupan pria-wanita,wanita-wanita historis dan kontemporer,yang telah memperlihatkan sifat-sifat dan atribusi yang dilukiskan dengan begitu semangat.
Kepribadian,
watak, dan temperament
a. Kepribadian
Kepribadian adalah organisasi
dinamis dalam individu sebagai system Pshycipysis yang menentukan caranya yang
khas dalam menyesuaikan diri terhadap sekitar.
b. Watak
Watak adalah Character is
personality evaluated, and personality is character devaluated (watak adalah
kepribadian dinilai, dan kepribadian adalah watak tak dinilai).
c. Temperament
Temperamnet adalah kesamaan yang
sangat erat dengan hubungannya dengan factor-faktor biologs atau fisologis dan
karenanya sedikit sekali mengalami modifikasi didalam perkembangan. Peranan
utama disini lebih penting/besar daripada segi-segi kepribadian yang lain.
Bagi Alport kepribadian adalah
gejala karakteristik daripada sifat emosi dari individu, termasuk juga mudah
tidaknya kena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatanya bereaksi, kualitas
kekuatan suasana hati : gejala ini tergantung kepada factor konstitusional, dan
karenanya terutama berasal dari keturunan. (Allport, 1951,p.54).
Sifat
a. Sifat adalah system neuropsikis
yang digeneralisasikan dan diarahkan, dengan kemampuan untuk menghadapi
bermacam-macam perangsang secara sama, memulai serta membimbing tingkah laku
adaptif dan ekspresif secara sama.
b. Sikap menurut Allport, merupakan hal yang sangat
sukar dan sulit untuk di beri definisi, karena sikap bisa di kategorikan
sebagai sifat . Namun ada perbedaan diantara kedua hal tersebut, yakni :
·
Sikap (attitude) itu
berhubungan dengan sesuatu obyek, sedangkan sifat (trait) tidak.
·
Sikap biasanya
membeikan penilaian (menerima atau menolak) terhadap obyek yang dihadapi,
sedangkan sifat tidak.
c. Type
Allport membedakan antara sifat dan
type :
Menurut Allport orang dapat
memiliki sesuatu sifat tetapi tidak sesuatu type. Type adalah konstruksi ideal
si pengamat dan seseorang dapat disesuaikan dengan type itu tetapi dengan
konsekuensi diabaikan sifat-sifat khas individulnya.
Sifat dapat mencerminkan sifat kahs
pribadi sedangkan type malah menyembunyikannya. Jadi bagi Allport, type
menunjukkan perbedaan-perbedaan perbuatan yang tak begitu sama dengan
kenyataan, sedangkan sifat adalah refleksi sebenarnya daripada yang
bernar-benar ada
D. Intensi
Lebih penting dari penyelidikan
mengenai masa lampau ialah penyelidikan mengenai intensi atau keinginan
individu mengenai masa depannya. Intensi ini lebih dikenal dengan
harapan-harapan, keinginan-keinginan, ambisi, cita-cita, rencana-rencana
seseorang.
E. Proponioum
Propium itu berkembang dari masa
bayi sampai masa adolensi melalui tujuh tingkat “diri”,yaitu:diri
jasmaniah,identitas diri,harga diri,perluasan diri,gambaran diri,diri sebagai
rasional,dan perjuangan diri.Tujuh propium ini berkembang dari masa bayi sampai
masa adolensi.Suatu kegagalan yang hebat pada setiap tingkat melumpuhkan
integrasi harmonis dalam propium. Pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak sangat
penting dalam perkembangan kepribadian sehat.
- Diri jasmaniah
Kira-kira pada usia 15 bulan,inilah
tingkat pertama perkembangan propium. Bayi tidak dapat membedakan antara diri
(“saya”) dan dunia sekitarnya.Perasaan diri bukan merupakan bagian dari warisan
keturunan kita.
- Identitas diri
Allport berpendapat bahwa segi yang
penting dalam identitas diri adalah nama orang.Anak mempelajari
namanya,menyadari bahwa perasaan tentan “saya” atau “diri” tetap bertahan dalam
menghadapi pengalaman-pengalaman yg berubah-ubah. Nama itu menjdi lambang
kehidupan seseorang untuk mengenalkan dirinya terhadap orang lain. Apabila ia
menjadi terkenal maka namalah yang terkenal sebelumnya.
- Harga diri
Hal ini menyangkut perasaan bangga
dari anak sebagai suatu hasil atas usahanya sendiri.Anak ingin belajar membuat
benda-benda,menyelidiki dan memuaskan perasaan ingin tahunya tentang lingkungan,memanipulasi
dan mengubah lingkungan itu.Inti dari munculnya harga diri ialah kebutuhan anak
akan otonomi.
- Perluasan diri
(self extension)
Mulai usia sekitar 4 tahun,anak
mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya dan fakta
bahwa beberapa di antaranya adalah milik anak tersebut.
- Gambaran diri
Hal ini menunjukkan bagaimana anak
melihat dirinya dan pendapatnya tentang dirinya.Lewat pujian dan hukuman,anak
belajar bahwa orang tuanya ingin agar anaknya bertingkah laku baik sesuai
keinginannya.
- Diri sebagai
perilaku rasional
Setelah anak mulai sekolah,diri
sebagai pelaku rasional mulai timbul.Anak belajar bahwa ia dapat memecahkan
masalah-masalah dengan menggunakan proses-proses yang logis dan rasional.
6.ABRAHAM MASLOW
A. BIOGRAFI
Abraham Harold Maslow dilahirkan
di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April 1908. Maslow dibesarkan dalam
keluarga Yahudi Rusia dengan orangtua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.
Pada masa kecilnya, ia dikenal sebagai anak yang kurang berkembang dibanding
anak lain sebayanya. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang anak Yahudi
yang tumbuh dalam lingkungan yang mayoritas dihuni oleh non Yahudi. Ia merasa
terisolasi dan tidak bahagia pada masa itu. Ia bertumbuh di perpustakaan di antara
buku-buku. Ia awalnya berkuliah hukum, namun pada akhirnya, ia memilih untuk
mempelajari psikologi dan lulus dari Universitas
Wisconsin. Pada saat ia
berkuliah, ia menikah dengan sepupunya yang bernama Bertha pada bulan desember
1928 dan bertemu dengan mentor utamanya yaitu profesor Harry Harlow.Ia
memperoleh gelar bachelor pada 1930, master pada 1931, dan Ph.D pada 1934.
Maslow kemudian memperdalam riset dan studinya di Universitas Columbia dan
masih mendalami
subjek yang sama. Di sana ia
bertemu dengan mentornya yang lain yaitu Alfred Adler, salah satu kolega awal
dari Sigmund Freud. Pada tahun 1937-1951, Maslow memperdalam ilmunya di
Brooklyn College.
Di New York, ia bertemu dengan
dua mentor lainnya yaitu Ruth Benedict seorang antropologis, dan Max Wertheimer
seorang Gestalt psikolog, yang ia kagumi secara profesional maupun personal.
Kedua orang inilah yang kemudian menjadi perhatian Maslow dalam mendalami
perilaku manusia, kesehatan mental, dan potensi manusia. Ia menulis dalam
subjek-subjek ini
dengan mendalam. Tulisannya
banyak meminjam dari gagasan-gagasan psikologi, namun dengan pengembangan yang
signifikan. Penambahan tersebut khususnya mencakup hirarki kebutuhan, berbagai
macam kebutuhan, aktualisasi diri seseorang, dan puncak dari pengalaman. Maslow
menjadi pelopor aliran humanistik psikologi yang terbentuk pada sekitar tahun
1950
hingga 1960-an. Pada masa ini, ia
dikenal sebagai "kekuatan ke tiga" di samping teori Freud dan
behaviorisme.
Maslow menjadi profesor di
Universitas Brandeis dari 1951 hingga 1969, dan menjabat ketua departemen
psikologi di sana selama 10 tahun. Di sinilah ia bertemu dengan Kurt Goldstein
(yang memperkenalkan ide aktualisasi diri kepadanya) dan mulai menulis
karya-karyanya sendiri. Di sini ia juga mulai mengembangkan konsep psikologi
humanistik. Ia menghabiskan masa pensiunnya di California, sampai akhirnya ia
meninggal karena serangan jantung pada 8 Juni 1970. Kemudian, Pada tahun
1967,Asosiasi Humanis Amerika menganugerahkan gelar Humanist of the Year.
B. TEORI
- Hirarki Kebutuhan
Maslow berpendapat bahwa motivasi
manusia diorganisasikan ke dalam sebuah hirarki kebutuhan, yaitu suatu susunan
kebutuhn yang sistematis, suatu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi sebelum
kebutuhan dasar lainnya muncul. Kebutuhan ini bersifat instinktif yang
mengaktifkan atau mengarahkan perilaku manusia. Meskipun kebutuhan itu bersifat
instinktif, namun perilaku yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan tersebut
sifatnya dipelajari, sehingga terjadi variasi perilaku dari setiap orang dalam
cara memuaskannya. Kebutuhan itu mempunyai beberapa karakteristik sebagai
berikut.
1) Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan
manusia yang paling dasra, kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya secara
fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman , seks, istirahat (tidur), dan
oksigen. Maslow mengemukakan bahwa manusia adalah binatang yang berhasrat dan
jarang mencapai taraf kepuasan yang sempurna, kecuali untuk suatu saat yang
terbatas. Apabila suatu hasrat itu telah terpuaskan, maka hasrat lain muncul
sebagai pengggantinya.
2) Kebutuhan Rasa Aman
Kebutuhan ini
sangat penting bagi setiap orang, baik anak, remaja, maupun dewasa. Pada anak
kebutuhan akan rasa aman ini nampak dengan jelas, sebab mereka suka mereaksi
secara langsung terhadap sesuatu yang mengancam dirinya. Agar kebutuhan anak
akan rasa aman ini terpenuhi, maka perlu diciptakan iklim kehidupan yang
memberi kebebasan untuk berekspresi. Namun pemberian kebebasan untuk
berekspresi atau berperilaku itu perlu bimbngan dari orang tua, karena anak
belum memiliki kemampuan untuk mengarahkan perilakunya secara tepat dan benar.
Pada orang dewasa, kebutuhan ini memotivasinya untuk mrncari kerja, menjadi
peserta asuransi, atau menabung uang. Orang dewasa yang sehat mentalnya,
ditandai dengan perasaan aman, bebas dari rasa takut dan cemas. Sementara yang
tidak sehat ditandai dengan perasaan seolah-olah selalu dalam keadaan terancam
bencana besar.
3) Kebutuhan Pengakuan dan Kasih Sayang
Apabila
kebutuhan fisiologis dan rasa aman sudah terpenuhi, maka individu mengembangkan
kebutuhan untuk diakui dan disayangi atau dicintai. Kebutuhan ini dapat
diekspresikan dalam berbagai cara, seperti: persahabatan, percintaan, atau
pergaulan yang lebih luas. Melalui kebutuhan ini seseorang mencari pengakuan,
dan curahan kasih sayang dari orang lain, baik dari orang tua, saudara, guru,
pimpinan, teman, atau orang dewasa lainnya.
Kebutuhan untuk
diakui lebih sulit untuk dipuaskan pada suasana masyarakat yang mobilisasinya
sangat cepat, terutama di kota besar, yang gaya hidupnya sudah bersifat
individualistik. Hidup bertetangga, aktif di organisasi, atau persahabatn dapat
memberikan kepuasan akan kebutuhan ini.
Kebutuhan kan
kasih sayang, atau mencintai dan dicintai dapat dipuaskan melalui hubungan yang
akrab dengan orang lain. Maslow membedakan antara cinta dengan seks,
meskipundiakuinya bahwa seks merupakan salah satu cara pernyataan kebutuhan
cinta. Dia sepentapat dengan Rogers yaitu: keadaan dimengerti secara mendalan
dan diterima dengan sepenuh hati. Maslow berpendapat bahwa kegagalan dalam
mencapai kepuasan kebutuhan cinta atau kasih sayang merupakan penyebab utama
dari gangguan emosional atau maladjustment.
4) Kebutuhan Pengahrgaan
Jika seseorang telah merasa
dicintai atau diakui, maka orang itu akan mengembangkan kebutuhan perasaan
berharga. Kebutuhan ini meliputi dua kategori, yaitu: (a) harga diri meliputi
kepercayaan diri, kompetensi, kecukupan, prestasi, dan kebebasan; (b) penghargaan
dari orang lain meliputi pengakuan, perhatian, prestise, respek, dan kedudukan
(status). Memperoleh kepuasan dari
kebutuhan ini memunhkinkan individu memiliki rasa perccaya diri akan kemampuan
dan penampilannya; menjadi lebih kompeten; dan produktif dalam semua aspek
kehidupan. Sebaliknya apabila seseorang mengalami kegagalan dalam memperoleh
kepuasan atau mengalami lack of
self-esteem maka dia akan mengalami rendah diri,tidak berdaya, tidak
bersemangat, dan kurang percaya diri terhadap kemampuannya untuk mengetasi
masalah kehidupan yang dihadapinya.
5) Kebutuhan Kognitif
Secara alamiah manusia memiliki
hasrat ingin tahu (memperoleh pengetahuan, atau pengalaman tentang sesuatu).
Hasrat ini mulai berkembang sejak akhir usia bayi dan awal masa anak, yang
diekspresikan sebagai rasa ingin tahunya dalam bentuk pengajuan pertanyaan
tentang berbagai hal, baik diri maupun lingkungannya. Rasa ingin tahu ini
biasanya terhambat perkembangannya oleh lingkungan, baik kkeluarga maupun
sekolah. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan menghambat pencapaian
perkembangan kepribadian secara penuh. Menurut Maslow, rasa ingin tahu ini
merupakan cirri mental yang sehat. Kebutuhan kognitif ini diekspresikan sebagai
kebutuhan untuk memahami, menganalisis, mengevaluasi, menjelaskan, mencari
sesuatu atau suasana baru dan meneliti.
6) Kebutuhan Estetika
Kebutuhan estetik (order and beauty) merupakan cirri orang
yang sehat mentalnya. Melalui kebutuhan inilah manusia dapat mengembangkan
kretivitasnya dalam bidang seni (lukis, rupa, patung, dan grafis), arsitektur,
tata busana, dan tata rias. Di samping itu orang yng sehat mentalnya ditandai
dengan kebutuhan keteraturan, keserasian, atau keharmonisan dalam setiap aspek
kehidupannya, seperti dalam cara berpakaian (rapi dengan keterpaduan warna yang
serasi), dan pemeliharaan ketertiban lalu lintas. Orang yang kurang sehat
mentalnya, atau sedang mengalami gangguan emosional, dan stress biasanya kurang
memeperhatikan kebersihan, dan kurang apresiatif terhadap keteraturan dan
keindahan.
7) Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan ini merupakan puncak
dari hirarki kebutuhan manusia yaitu perkembangan atau perwujudan potensi dan
kapasitas secara penuh. Maslow berpendapat bahwa manusia dimotivasi untuk
menjadi segala sesuatu yang dia mampu untuk menjadi itu. Walaupun kebutuhan
lainnya terpenuhi, namun apabila kebutuhan katualisasi diri tidak terpenuhi,
tidak mengembangkan atau tidak mampu menggunakan kemampuan bawaannya secara
penuh, maka seseorang akan mengalami kegelisahan, ketidaktenangan, atau
frustasi.
- Kepribadian yang Sehat
Maslow berpendapat bahea
seseorang akan memiliki kepribadian yang sehat, apabila dia telah mampu untuk
mengaktualisasikan dirinya sebagai
dirinya secara penuh (self-actualizing
person). Dia mengemukakan teori motivasi bagi self-actualizing person dengan nama metemotivation, meta-needs, B-motivation, atau being values (kebutuhan untuk
berkembang). Seseorang yang telah mampu mengaktualisasikan dirinya tidak
termotivasi untuk mengejar sesuatu (tujuan) yang khusus, mereduksi ketenangan,
atau memuaskan suatu kekurangan. Mereka secara menyeluruh tujuannya akan
memperkaya, memperluas kehidupannya dan mengurangi keterangan melalui
bermacam-macam pengalaman yang menantang. Dia berusaha untuk mengembangkan
potensinya secara maksimal, dengan memperhatikan lingkungannya. Dia juga berada
dalam keadaan menjadi yaitu spontan,
alami, dan senang mengekspresikan potensinya secara penuh.
Sementara motivasi bagi orang
yang tidak mampu mengaktualisasikan dirinya, dia dinamai D-motivation atau Deficiency.
Tipe motivasi ini cenderung mengejar hal yang khusus untuk memenuhi kekurangan
dalam dirinya, seperti mencari makanan untuk memenuhi rasa lapar. Ini berarti
bahwa kebutuhan khusus (lapar) untuk tujuan yang khusus (makanan) menghasilkan
motivasi untuk memperoleh sesuatu yang dirasakannya kurang (mencari makanan).
Motif ini tidak hanya berhubungan dengan kebutuhan fisiologis, tetapi juga rasa
aman, cinta kasih, dan penghargaan.
Terkait dengan metaneeds, Maslow selanjutnya mengatakan
bahwa kegagaln dalam memuaskannya akan berdampak kurang baik bagi individu,
sebab dapat menggagalkan pemuasan kebutuhan yang lainnya, dan juga melahirkan
metapatologi yang dapat merintangi perkembangannya. Metapatologi merintangi self-actualizers untuk mengekspresikan,
menggunakan, memenuhi potensinya, merasa tidak berdaya, dan depresi. Individu
tidak mampu mengidentifikasi sumber penyebab khusus dari masalah yang
dihadapinya dan usaha untuk mengatasinya.
Mengenai self-actualizing person, atau orang yang sehat mentalnya, Maslow
mengemukakan cirri-cirinya sebagai berikut.
1) Mempersepsi
kehidupan atau dunianya sebagaimana apa adanya, dan merasa nyaman dalam
menjalaninya.
2) Menerima dirinya
sendiri, orang lain, dan lingkungannya.
3) Bersikap mandiri
atau independent.
4) Memiliki apresiasi
yang segar terhadap linkungan di sekitarnya.
5)
Memiliki minat social: simpati, empati, dan altruis.
6)
Bersikap demokratis (toleran, tidak rasialis, dan terbuka).
7)
Kreatif (fleksibel, spontan, terbuka, dan tidak takut salah).
Pandangannya
terhadap hakikat manusia, Maslow berpendapat bahwa manusia itu bersifat
optimistik, bebas berkahendak, sadar dalam memilih, unik, dapat mengatasi
pengalaman masa kecil, dan baik. Menurut dia, kepribadian itu dipengaruhi oleh
hereditas dan lingkungan.
Dalam kaitannya
dengan peran lingkungan, khususnya sekolah dalam mengembangkan self-actualization, Maslow mengemukakan
beberapa upaya yang seyogianya dilakukan oleh sekolah (dalam hal ini guru-guru)
yaitu sebagai berikut.
1)
Membantu siswa dalam menemukan identitasnya (jati dirinya) sendiri.
2)
Membantu siswa untuk mengeksplorasi pekerjaan.
3)
Membantu siswa untuk memahami keterbatasan (nasib) dirinya.
4)
Membantu siswa untuk meperoleh pemahaman tentang nilai-nilai.
5) Membantu siswa
agar memahami bahwa hidup ini berharga.
6) Mendorong siswa
agar mencapai pengalaman puncak dalam kehidupannya.
7) Memfasilitasi
siswa agar dapat memuaskan kebutuhan dasarnya (rasa aman, rasa berharga, dan
rasa diakui).
7. ARTHUR COMBS
a. biografi
Arthur W. Combs
(1912-1999) adalah seorang pendidik / psikolog yang memulai karir akademis
sebagai profesor ilmu biologi dan psikolog sekolah di sekolah umum di Alliance,
Ohio (1935-1941). Ia menerima gelar MA dalam Konseling, sekolah di The Ohio
State University (1941) dan diterima di program doktor dalam psikologi klinis
pada lembaga, di mana Carl Rogers menjabat sebagai guru dan mentor. Dia
menyelesaikan gelar doktor pada tahun 1945.
Arthur W. Combs memulai
karir profesionalnya di sekolah umum, Alliance, Ohio pada tahun 1935. Untuk
meningkatkan keahliannya dalam membantu siswa, ia mencari gelar doktor di
Klinik Psikologi di negara bagian Ohio dan menghabiskan sepuluh tahun
berikutnya untuk mengoperasikan klinik dan pelatihan siswa dan konseling
psikologis di Syracuse University dan psychoterapy).
Pada tahun 1949 ia
terpilih sebagai Presiden Asosiasi Psikologi di New York dan pada tahun yang
sama ia turut menulis (dengan Donald L. Snygg) perilaku individu: kerangka
kerja baru untuk psikologi. Buku ini menyajikan suatu kerangka komprehensif dan
sistematis untuk membuat rasa terbaik dari pengalaman manusia, perilaku dan
hubungan antara keduanya
B.TEORI
Bersama dengan Donald
Snygg (1904 - 1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan.
Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar
terjadi bila mempunyai arti bagi individu, guru tidak bisa mamaksakan materi
yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa
matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka tidak mau dan
terpaksa serta merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus
mempelajarinya. Perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari
ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan
kepuasan baginya
Mencermati kondisi di atas, seorang guru hendaknya memahami betul karakter siswa, dengan cara melihat potensi yang terdapat pada diri anak. Sebagai ilustrasi; seorang Ahmad Dani tidak begitu pintar matematikanya, namun dia memiliki kelebihan dalam dunia musik yang sampai saat ini menempatkan dia sebagai musisi teratas.
Mencermati kondisi di atas, seorang guru hendaknya memahami betul karakter siswa, dengan cara melihat potensi yang terdapat pada diri anak. Sebagai ilustrasi; seorang Ahmad Dani tidak begitu pintar matematikanya, namun dia memiliki kelebihan dalam dunia musik yang sampai saat ini menempatkan dia sebagai musisi teratas.
Seorang guru sebagai
fasilitator hendaknya dapat mencermati realitas siswa yang tidak menyukai
materi yang diberikan. Guru diharapkan melihat kondisi bakat siswa yang ada
pada dirinya. Karena bakat, potensi dimiliki masing-masing oleh siswa siswa.
Menurut Combs
sebagaimana dikutip oleh Rumini, dkk. (1993) perilaku yang keliru atau tidak
baik terjadi karena tidak adanya kesediaan seseorang melakukan apa yang
seharusnya dilakukan sebagai akibat dari adanya sesuatu yang lain, yang lebih
menarik atau memuaskan. Misalkan guru mengeluh murid-muridnya tidak berminat
belajar, sebenarnya hal itu karena murid-murid itu tidak berminat melakukan apa
yang dikehendaki oleh guru. Kalau saja guru tersebut lalu mengadakan
aktivitas-aktivitas yang lain, barangkali murid-murid akan berubah sikap dan
reaksinya.
Guru tidak bisa
memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan siswa.
Guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa
tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha
merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada.
Arthur Combs berpendapat
bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar
apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Combs
memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti 2 lingkaran (besar
dan kecil) yang bertitik pusat : 1. lingkaran kecil adalah gambaran dari
persepsi diri dan lingkungan besar. 2. adalah persepsi dunia. Makin jauh
peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap
perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin
mudah hal itu terlupakan. (http://elearning-po.unp.ac.id). Jadi jelaslah
mengapa banyak hal yang dipelajari oleh murid segera dilupakan, karena sedikit
sekali kaitannya dengan dirinya.
Arthur W. Combs
menjelaskan bagaimana persepsi ahli-ahli psikologi dalam memandang tingkah
laku. Untuk mengerti tingkah laku manusia, yang penting adalah mengerti
bagaimana dunia ini dilihat dari sudut pandangnya. Pernyataan ini adalah salah
satu dari pandangan humanistik mengenai perasaan, persepsi, kepercayaan, dan
tujuan tingkah laku inner (dari dalam) yang membuat orang berbeda dengan orang
lain. Untuk mengerti orang lain, yang penting adalah melihat dunia sebagai yang
dia lihat, dan untuk menentukan bagaimana orang berpikir, merasa tentang dia
atau tentang dunianya. Combs menyatakan bahwa tingkah laku menyimpang adalah
“akibat yang tidak ingin dilakukan, tetapi dia tahu bahwa dia harus melakukan”(
Sri Esti Wuryani Djiwandono 2002, hlm. 182-183).
Arthur Combs, seorang
humanis, berpendapat bahwa perilaku batiniah, seperti perasaan, persepsi,
keyakinan, dan maksud, menyebabkan seseorang berbeda dengan orang lain. Untuk
memahami orang lain, kita harus melihat dunia orang lain seperti ia merasa dan
berpikir tentang dirinya. Seorang pendidik dapat memahami perilaku peserta
didik jika ia mengetahui bagaimana peserta didik memersepsikan perbuatannya
pada suatu situasi. Apa yang kelihatannya aneh bagi kita, mungkin saja tidak
aneh bagi orang lain.
Dalam proses
pembelajaran, menurut para ahli psikologi humanistis, jika peserta didik
memperoleh informasi baru, informasi itu dipersonalisasikan ke dalam dirinya.
Sangatlah keliru jika pendidik beranggapan bahwa peserta didik akan mudah
belajar kalau bahan ajar disusun rapi dan disampaikan dengan baik, karena
peserta didik sendirilah yang menyerap dan mencerna pelajaran itu. Yang menjadi
masalah dalam proses pembelajaran bukanlah bagaimana bahan ajar itu
disampaikan, tetapi bagaimana membantu peserta didik memetik arti dan makna
yang terkandung di dalam bahan ajar itu. Apabila peserta didik dapat mengaitkan
bahan ajar dengan kehidupannya, pendidik boleh berbesar hati karena misinya
telah berhasil
8. CARL ROGERS
A. BIOGRAFI
CARL ROGERS Lahir
di Illinois dan sejak kecil menerima penanaman yang ketat mengenai kerja keras
dan nilai agama Protestan. Kelak kedua hal ini mewarnai teori-teorinya. Setelah
mempelajari teologi, ia masuk Teacher’s College di Columbia Uni, dimana banyak
tokoh psikologi mengajar. Di Columbia Uni ia meraih gelar Ph.D.
Rogers bekerja sbg
psikoterapis dan dari profesinya inilah ia mengembangkan teori humanistiknya.
Dalam konteks terapi, ia menemukan dan mengembangkan teknik terapi yang dikenal
sebagai Client-centered Therapy.
Dibandingkan teknik
terapi yang ada masa itu, teknik ini adalah pembaharuan karena mengasumsikan
posisi yang sejajar antara terapis dan pasien (dalam konteks ini pasien disebut
klien). Hubungan terapis-klien diwarnai kehangatan, saling percaya, dan klien
diberikan diperlakukan sebagai orang dewasa yang dapat mengambil keputusan
sendiri dan bertanggungjawab atas keputusannya.
Tugas terapis adalah
membantu klien mengenali masalahnya, dirisnya sendiri sehingga akhrinya dapat
menemukan solusi bagi dirinya sendiri.
Keseluruhan pengalaman eksternal dan internal psikologis individu membentuk organisma.
Keseluruhan pengalaman eksternal dan internal psikologis individu membentuk organisma.
Organisma adalah
kenyataan yang dihayati individu, dan disebut sebagai subjective reality, unik
dari satu individu ke individu lainnya. Self (diri) berkembang dari organisma.
Semakin koheren organisma dan self, semakin sehat pribadi tersebut dan
sebaliknya.
Sebagaimana ahli
humanistic umumnya, Rogers mendasarkan teori dinamika kepribadian pada konsep
aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah daya yang mendorong pengembangan diri
dan potensi individu, sifatnya bawaan dan sudah menjadi cirri seluruh manusia.
Aktualisasi diri yang mendorong manusia sampai kepada pengembangan yang optimal
dan menghasilkan cirri unik manusia seperti kreativitas, inovasi, dan lain-lain
B.TEORI
Rogers tidak
terlalu memberi perhatian kepada teori kepribadian. Baginya cara mengubah dan
perhatian terhadap proses perubahan kepribadian jauh lebih penting dari ada
karakteristik keppribadian itu sendiri. Namun demikian, karena dalam konseling
selalu memperhatikan perubahan – perubahan kepribadian, maka atas dasar
pengalamannya Rogers memiliki pandangan khusus yang sekaligus menjadi dasar
dalam menerapkjan asumsi – asumsinya terhadap proses konseling.
Rogers
mengungkapkan terdapat tiga unsur yang sangat essensial dalam hubunbgannya
dengan kepribadian, yaitu ;
1. Self, adalah bagian dari kepribadian yang terpenting dalam pandangan Rogers.Self disebut pula self concept, merupakan persepsi dan nilai – nilai individu tentang dirinya atau hal – hal lain yang
berhubungan dengan dirinya. Self meliputi dua hal,
1. Self, adalah bagian dari kepribadian yang terpenting dalam pandangan Rogers.Self disebut pula self concept, merupakan persepsi dan nilai – nilai individu tentang dirinya atau hal – hal lain yang
berhubungan dengan dirinya. Self meliputi dua hal,
(1)Self real, merupakan gambaran
sebenarnya tentang dirinya yang nyata,
(2) Ideal
self, merupakan apa yang menjadi kesukaan, harapan, atau yang idealisasi
tentang dirinya.
2. Medan Fenomenal (fenomenal field) merupakan keseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Kita mampu memahami fenomenal field seseorang hanya dengan menggunakan kerangka pemiiran internal individu yang bersangkutan (imternal frame of referance)
3. Organisme, merupakan keseluruhan totalitas imdividu yang meliputi ; pemikiran, perilaku dan keadaan fisik. Organisme mempunyai satu kecenderungan dan dorongan dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan dan mengembangkandiri.
2. Medan Fenomenal (fenomenal field) merupakan keseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Kita mampu memahami fenomenal field seseorang hanya dengan menggunakan kerangka pemiiran internal individu yang bersangkutan (imternal frame of referance)
3. Organisme, merupakan keseluruhan totalitas imdividu yang meliputi ; pemikiran, perilaku dan keadaan fisik. Organisme mempunyai satu kecenderungan dan dorongan dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan dan mengembangkandiri.
Kepribadian
menurut Rogers merupakan hasil dari interaksi yang terus menerus antara
organisme, self dan medan fenomenal. Untuk memahami perkembangan kepribadian
perlu dibahas tentang dinamika kepribadian berikut
1.
Kecenderungan mengaktualisasikan diri. Rogers
beranggapan bahwa organismw manusia adalah unik dan memiliki kemampuan untuk
mengarahkann mengatur, mengontrol dirinya dan mengembangkan potensinya.
Kecenderungan mengaktalisasikan ini sifatnya terarah, konstruktif dan ada dalam
kehidupannya. Kecenderungan mengaktualisasi sebagai daya dorong ( motive force
) individu, yang bersufat inherent, karena sudah dimiliki sejak dilahirkan, hal
ini ditunjukan dengan kemampuan bayi untuk memberikn penilaian apa yang terasa
baik (actualizing) dan yang terasa tidak baik (nonactualizing) terhadap
peristiwa yang diterimanya.
2. Penghargaan positif dari orang lain
Self berkembang dari interaksi yang dilakukan oeganisme dengan realitas lingkungannya, dan hasil interaksi ini menjadi pengalaman bagi ndividu. Lingkngan sosial yang sangat berpengaruh adalah orang – orang yang bermakna baginya, seperti orang tua atau terdekat lainnya. Seseorang akan berkembang positif, apabila di dalam berinteraksi itu mendapatkan penghargaan, penerimaan, dan cinta dari orang lain (positive regard). Tentunya penghargaan positif yang diberikan kepada individutidak diberikan dengan cara memaksa atau bersyarat karena pemberian penghargaan yang bersyarat akan menghambat pertumbuhannya.
3. Person yang berfungsi secara utuh. Individu yang terpenuhi kebutuhannya, yaitu memperoleh penghargaan positif tanpa syarat dan mengalami penghargaan diri, akan dapat memncapai kondisi yang kongruensi antara self dan engalamannya, pada akhirnya dia akan dapat mencapai penyesuaian psikologis secara baik. Rogers menegaskan bahwa orang yang demikian ini menjadi pribadi yang berfungsi secara sempurna (fully functional person), yang ditandai oleh keterbukaan terhadap pengalaman, percaya kepada organismenya sendiri, dapat mengekpresikan perasaan – perasaannya secara bebas, bertindak secara mandiri, dan krteatif (Rogers, 1970). Fully functioning ini pada dasrnya sebagai tujuan hidup manusia
2. Penghargaan positif dari orang lain
Self berkembang dari interaksi yang dilakukan oeganisme dengan realitas lingkungannya, dan hasil interaksi ini menjadi pengalaman bagi ndividu. Lingkngan sosial yang sangat berpengaruh adalah orang – orang yang bermakna baginya, seperti orang tua atau terdekat lainnya. Seseorang akan berkembang positif, apabila di dalam berinteraksi itu mendapatkan penghargaan, penerimaan, dan cinta dari orang lain (positive regard). Tentunya penghargaan positif yang diberikan kepada individutidak diberikan dengan cara memaksa atau bersyarat karena pemberian penghargaan yang bersyarat akan menghambat pertumbuhannya.
3. Person yang berfungsi secara utuh. Individu yang terpenuhi kebutuhannya, yaitu memperoleh penghargaan positif tanpa syarat dan mengalami penghargaan diri, akan dapat memncapai kondisi yang kongruensi antara self dan engalamannya, pada akhirnya dia akan dapat mencapai penyesuaian psikologis secara baik. Rogers menegaskan bahwa orang yang demikian ini menjadi pribadi yang berfungsi secara sempurna (fully functional person), yang ditandai oleh keterbukaan terhadap pengalaman, percaya kepada organismenya sendiri, dapat mengekpresikan perasaan – perasaannya secara bebas, bertindak secara mandiri, dan krteatif (Rogers, 1970). Fully functioning ini pada dasrnya sebagai tujuan hidup manusia
9. Raymond Bernard Cattell
A.BIOGRAFI
Raymond Bernard Cattell
dilahirkan di kota Staffordshire,Inggris pada tahun 1905.Ketika kecil, Cattel
sama seperti anak-anak pada umumnya yaitu memiliki banyak waktu luang untuk
bermain diluar.Akan tetapi ketika berusia 9 tahun,Inggris memasuki perang dunia
1 dan sebuah rumah disamping rumah Cattell dijadikan rumah sakit di mana ia
melihat orang yang penuh luka dari medan perang di Perancis.Hal itu membuatnya menjadi lebih sadar betapa singkatnya hidup seseorang dan membuatnya menjadi serius.
Ia memperoleh gelar B.Sc dari
Universitas London pada tahun 1924 dan selanjutnya Ph.D dalam psikologi tahun
1929.Tahun 1928-1931 menjadi Lektor pada University College of South
West,Exeter,di Inggris.Kemudian pada tahun 1932-1937 menjadi direktur City
Psychological Clinic di Leicester,Inggris. Ia kemudian mendapat gelar D.S.c.
oleh Universitas London berkat jasa-jasanya dalam research mengenai
kepribadian. Pada tahun 1937-1938 menjadi research associate pada Teacher
College di Columbia University,menjadi dosen di 1938-1924 di Clark University
dan pada tahun 1942-1944 sebagai dosen pada Harvard University kemudian sejak
tahun 1944 menjadi research professor of Psychology pada Illinois University.
Raymon B. Cattell meninggal di rumahnya di Honolulu pada tanggal 2 Februari
1998.
B. TEORI
Cattell memberi definisi yang sangat umum mengenai kepribadian yaitu :
‘‘Personality is that which permits a prediction of what a person will do
in a given situation’’
Berdasarkan definisi
tersebut,Cattell berpendapat bahwa tujuan dari pada penelitian mengenai
kepribadian adalah menentukan hukum-hukum mengenai apa yang akan dilakukan oleh
berbagai orang dalam berbagai situasi dalam lingkungan,yaitu mengenai segala
aktifitas individu baik yang nampak maupun tidak. Kepribadian yang dimaksud
Cattell fokus dengan seluruh bentuk perilaku, baik luar dan dalam. Cattell bertujuan untuk memprediksikan perilaku dengan subjek penelitiannya
yaitu orang-orang normal yang di pelajari kepribadiannya,karena menurutnya
bahwa tidak bijak jika ingin mengubah perilaku seseorang tetapi tidak
mengetahui dan memahami secara terperinci apa yang harus diubah.
Teori kepribadian Cattell berangkat
dari teorinya George W. Allport yakni mengenai trait yang lebih dikembangkan lagi.Trait sendiri yaitu sebuah
kecenderungan reaksi yang relativ permanen yang merupakan bagian dari
kepribadian. Adapun teori dari Cattell
dikenal dengan Analisis Faktor, yaitu sebuah prosedur statistik untuk mengukur
faktor-faktor umum pada individu.Dalam hal ini Cattell menggunakan 3 metode
pendekatan,antara lain Life Record,yaitu catatan mengenai tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari disebut
juga sebagai data L, kemudian ada Self
Rating yaitu sebagai pelengkap untuk melengkapi data yang diperoleh
dengan metode life record atau disebut juga data Q, dan Objective Test, yang merupakan observasi terhadap individu
dalam situasi yang diadakan secara khusus supaya dapat dibuat ramalan mengenai
tingkah laku individu tersebut dalam situasi-situasi yang lain atau disebut juga data T.
POKOK-POKOK TEORI CATTELL
Terdapat beberapa pokok-pokok teori
Cattell untuk lebih memahami pendapatnya yaitu : Trait,erg,metaerg,self,dan specification equation
- Trait
Menurut Cattell yaitu suatu struktur mental untuk
menunjukkan keajegan dan ketetapan dalam tingkah laku itu atau sebuah
kecenderungan reaksi yang relativ permanen yang merupakan bagian dari
kepribadian. Ada beberapa penjabaran mengenai trait yaitu :
A. Common trait dan Unique trait
-Common trait
(sifat umum) adalah sifat yang dimiliki oleh semua individu atau
setidaknya oleh sekelompok individu yang hidup dalam lingkungan sosial yang
sama.
-Unique trait (sifat khusus).Adalah sifat yang
hanya dimiliki oleh individu masing-masing dan tidak dapat ditemukan pada
individu lain. Dibagi menjadi 2,yaitu :
·
Relatively unique,kekhususannya timbul dari pengaturan unsur-unsur sifat
itu.
·
Intrinsically unique,yang benar-benar hanya ada pada individu khusus
tertentu.
B. Surface trait dan Source trait
Surface trait adalah sifat yang nampak atau sifat
permukaan,dan Source trait adalah variabel yang mendasari berbagai sifat yang
nampak. Sifat permukaan merupakan hasil interaksi dari pada sifat asal.Menurut
Cattell, bagi orang lain,sifat permukaan itu lebih diakui dari pada sifat
asal,karena dapat langsung disaksikan melalui observasi sederhana,tetapi tetap
saja sifat asallah yang lebih menentukan perilaku.
- Erg.
Erg berasal dari bahasa Yunani yaitu ergon
yang berarti kerja atau energi yang digunakan Cattell untuk menempatkan konsep
dorongan atau insting. Erg merupakan
unit dasar dari motivasi dan diarahkan
menuju tujuan yang spesifik. Erg
lebih mengarah ke sesuatu yang lebih dasar ( primer) atau dibawa sejak lahir.
- Metaerg.
Metaerg dapat dikatakan bersesuaian dengan erg,
akan tetapi metaerg merupakan hasil dari pengalaman atau sosiokultural. Jika
erg dibawa sejak lahir, maka metaerg terbentuk melalui perkembangan individu seperti sentiment.
- Self.
Dalam teori Cattell kepribadian merupakan suatu hal
yang bersifat dinamis, yaitu mengenai struktur sifat-sifat dan interaksinya.
Self merupakan aspek yang mengorganisasikan struktur tersebut serta menjamin
stabilitasnya.Self berfungsi untuk mengintegritaskan segala komponen
kepribadian, sehingga kepribadian merupakan suatu ‘’unitas’’. Hal yang mengatur
ini disebut oleh Cattell sebagai self sentiment atau structural self.
Di dalam self dibagi 2 lagi yaitu ideal self ( diri yang diinginkan oleh
seseorang),dan real self (ciri yang
seharusnya menurut pertimbangan rasional). Real
self pada masa kanak-kanak merupakan refleksi dari ideal self. Jika perkembangan cukup baik, ideal self dan real self akan
menjelma menjadi structural self, dan
inilah individu yang dikenal berpendirian dan juga bertingkah laku yang
realistis.
- Specification Equation.
Yaitu tingkah laku individu yang dapat diramalkan
yang harus memenuhi keadaan yang ideal di mana si ahli psikologi mengenal
segala variabel relevant yang mempengaruhi tingkah laku serta mempunyai alat
pengukur yang benar-benar tepat untuk mengukur variabel tersebut. Tiap orang
telah mengetahui bahwa tingkah laku itu
merupakan hasil faktor yang berasal dari dalam (dorongan,kebutuhan dsb) dan
pengaruh luar (lingkungan,situasi,dsb) namun orang-orang tidak tahu bagaimana
menentukan faktor tersebut dan bagaimana mengukurnya,dan penelitian Cattell
dapat menjelaskan tentang hal ini.
10. Hans Eysenck
A.BIOGRAFI
Hans Eysenck lahir di Jerman pada tanggal 4 Maret
1916. Ayahnya adalah seorang aktor dan bercerai dengan ibunya saat dia baru
berusia 2 tahun. Eysenck kemudian dirawat oleh neneknya. Dia hidup bersama
neneknya sampai usia 18 tahun, ketika nazi mulai berkuasa. Sebagai seorang
simpatisan Yahudi, terang saja kehidupannya terancam.
Dia kemudian pindah ke Inggris
guna melanjutkan pendidikanya. Dia menerima gelar doktor di bidang psikologi
dari University of London tahun 1940. Selama Perang Dunia II, dia bekerja
sebagai psikolog di bagian gawat darurat perang. Di sinilah dia melakukan
penelitian tentang kevalidan diagnosis-diagnosis psikiatri. Hasil penelitian inilah
yang kemudian membuatnya sangat menentang psikologi klinik sepanjang kariernya.
Setelah Perang usai, dia mengajar
di University of London dan menjadi ketua bagian psikologi pada The Institute
of Psychiatry di Bethlehem Royal Hospital. Karena dia telah menulis 75 buku dan
sekitar 700 artikel, tidak salah kalau dia merupakan salah satu penulis
psikologi paling terpandang. Eysenck pensiun tahun 1983 dan terus berkarya
sampai dia meninggal pada tanggal 4 September 1997.
B.TEORI
Eysenck berpendapat dasar umum
sifat-sifat kepribadian berasal dari keturunan, dalam bentuk tipe dan trait.
Dia juga berpendapat bahwa semua tingkahlaku dipelajari dari lingkungan.
Menurutnnya kepribadian adalah keseluruhan pola tingkahlaku aktual maupun
potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan.
Pola tingkahlaku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi fungsional dari
empat sektor utama yang mengorganisir tingkahlaku; sektor kognitif
(intelligence), sektor konatif (character), sektor afektif (temperament),
sektor somatik (constitution).
HIRARKI
FAKTOR-FAKTOR KEPRIBADIAN
Kepribadian sebagai organisasi
tingkahlaku oleh Eysenck dipandang memiliki empat tingkatan hirarkis,
beturut-turut dari hirarki yang tinggi ke hirarki yang rendah: tipe – traits –
habit – respon spesifik.
- Hirarki tertinggi: Tipe, kumpulan dari trait, yang mewadahi kombinasi trait dalam suatu dimensi yang luas.
- Hirarki kedua: Trait, kumpulan kecenderungan kegiatan, koleksi respon yang saling berkaitan atau mempunyai persamaan tertentu. Ini adalah disposisi kepribadian yang penting dan permanen.
- Hirarki ketiga: Kebiasaan tingkahlaku atau berfikir, kumpulan respon spesifik, tingkahlaku/fikiran yang muncul kembali untuk merespon kejadian yang mirip.
- Hirarki terendah: Respon spesifik, tingkahlaku yang secara aktual dapat diamati, yang berfungsi sebagai respon terhadap suatu kejadian.
Eysenck menemukan tiga dimensi
tipe, yakni ekstraversi (E), neurotisisme (N), dan psikotisme (P).
Masing-masing dimensi saling asing, sehingga dapat berlangsung kombinasi antar
dimensi secara bebas. Masing-masing tipe merupakan kumpulan dari 9 trait,
sehingga semuanya ada 27 trait (Gambar 10). Trait dari ekstraversi adalah:
sosiabel (sociable), lincah (lively), aktif (active), asertif (assertive),
mencari sensasi (sensation seeking), riang (carefree), dominan (dominance),
bersemangat (surgent), berani (venture some). Trait dari neurotisisme adalah:
cemas (anxious), tertekan (depressed), berdosa (guild feeling), harga diri
rendah (low self esteem), tegang (tension), irasional (irrational), malu (shy),
murung (moody), emosional (emotional). Trait dari psikotisme adalah: agresif
(aggressive), dingin (cold), egosentrik (egocentric), takpribadi (impersonal),
impulsif (impulsive), antisosial (antisocial), tak empatik (tak empatik),
kreatif (creative), keras hati (tough-minded).
TIPE
Eysenck menemukan dan
mengelaborasikan tiga tipe – E,N,P- tanpa menyatakan secara eksplisit peluang
untuk menemukan dimensi yang lain pada masa yang akan datang.
Neurotitisme dan Psikotisme itu
bukan sifat patologis, walaupun tentu individu yang mengalami gangguan akan
memperoleh skor yang ekstrim. Tiga dimensi itu adalah bagian normal dari
struktur kepribadian. Semuanya bersifat bipolar; ekstraversi lawannya introversi,
neurotisisme lawannya stabilita, dan psikotisme lawannya fungsi superego. Semua
orang berada dalam rentangan bipolar itu mengikuti kurva normal, artinya
sebagian besar orang berada ditengah-tengah polarisasi, dan semakin mendekati
titik ekstrim, jumlahnya semakin sedikit.
1. Ekstraversi
Konsep Eysenck mengenai
ekstraversi mempunyai sembilan sifat sebagaimana ditunjukkan oleh trait-trait
dibawahnya, dan introversi adalah kebalikan dari trait ekstraversi, yakni:
tidak sosial, pendiam, pasif, ragu, banyak fikiran, sedih, penurut, pesimis,
penakut.
Eysenck yakin bahwa penyebab
utama perbedaan antara ekstraversi dan introversi adalah tingkat keterangsangan
korteks (CAL = Cortical Arausal Level), kondisi fisiologis yang sebagian besar
bersifat keturunan. CAL adalah gambaran bagaimana korteks mereaksi stimulasi
indrawi. CAL tingkat rendah artinya korteks tidak peka, reaksinya lemah.
Sebaliknya CAL tinggi, korteks mudah terangsang untuk bereaksi. Orang yang
ekstravers CAL-nya rendah, sehingga dia banyak membutuhkan rangsangan indrawi
untuk mengaktifkan korteksnya. Sebaliknya introvers CAL-nya tinggi, dia hanya
membutuhkan rangsangan sedikit untuk mengaktifkan korteksnya. Jadilah orang
yang introvers menarik diri, menghindar dari riuh-rendah situasi disekelilingnya
yang dapat membuatnya kelebihan rangsangan.
Orang introvers memilih aktivitas
yang miskin rangsangan sosial, seperti membaca, olahraga soliter (main ski,
atletik), organisasi persaudaraan eksklusif. Sebaliknya orang ekstravers
memilih berpartisipasi dalam kegiatan bersama, pesta hura-hura, olahraga beregu
(sepakbola, arung jeram), minum alkohol dan mengisap mariyuana. Eysenck
menghipotesakan ekstravers (dibanding introvers) melakukan hubungan seksual
lebih awal dan lebih sering, dengan lebih banyak pasangan, dan dengan perilaku
seksual yang lebih bervariasi. Ektravers yang ketagihan alkohol dan narkotik
cenderung mengkonsumsi dalam jumlah yang lebih besar.
2. Neurotisisme
Seperti ekstraversi-introversi,
neurotisisme-stabiliti mempunyai komponen hereditas yang kuat. Eysenck
melaporkan beberapa penelitian yang menemukan bukti dasar genetik dari trait
neurotik, seperti gangguan kecemasan, histeria, dan obsesif-kompulsif. Juga ada
keseragaman antara orang kembar-identik lebih dari kembar-fraternal dalam hal
jumlah tingkahlaku antisosial dan asosial seperti kejahatan orang dewasa,
tingkahlaku menyimpang pada anak-anak, homoseksualitas, dan alkoholisme.
Orang yang skor neurotiknya
tinggi sering mempunyai kecenderungan reaksi emosional yang berlebihan dan
sulit kembali normal sesudah emosinya meningkat. Namun neurotisisme itu bukan
neurosis dalam pengertian yang umum. Orang bisa saja mendapat skor neurotisisme
yang tinggi tetapi tetap bebas dari simpton gangguan psikologis. Menurut
Eysenck, skor neurotisisme mengikuti model stres-diatesis (diathesis-stress
model); yakni skor N yang tinggi lebih rentan untuk terdorong mengembangkan
gangguan neurotik dibanding skor N yang rendah, ketika menghadapi situasi yang
menekan.
Dasar biologis dari neurotisisme
adalah kepekaan reaksi sistem syaraf otonom (ANS=Automatic Nervous Reactivity).
Orang yang kepekaan ANS-nya tinggi, pada kondisi lingkungan wajar sekalipun
sudah merespon secara emosional sehingga mudah mengembangkan gangguan neurotik.
Neurotisisme dan ekstraversi dapat digabung dalam bentuk hubungan CAL dan ANS,
dan dalam bentuk garis absis ordinat. Kedudukan setiap orang pada bidang dua
dimensi itu tergantung kepada tingkat ekstraversi dan neurotisismenya. Pada
gambar 11, A adalah orang introvert-neurotik (ekstrim introvers dan ekstrim
neurotisisme) atau orang yang memiliki CAL tinggi dan ANS tinggi. Orang itu
cenderung memiliki simpton-simpton kecemasan, depresi, fobia, dan
obsesif-kompulsif, yang oleh Eysenck disebut mengidap gangguan psikis tingkat
pertama (disorders of the first kind). B adalah orang ekstravers-neurotik atau
orang yang memiliki CAL rendah dan ANS tinggi. Orang itu cenderung psikopatik,
kriminal dan delingkuen, atau mengidap gangguan psikis tingkat kedua (disorders
of the second kind). C adalah orang normal yang introvers; tenang, berfikir
mendalam, dapat dipercaya. D adalah orang yang normal-ekstravers; riang,
responsif, senamg bicara/bergaul.
Neurotisisme
dan Extraversi-Introversi
Masalah lain yang diselidiki
Eysenck adalah interaksi antara kedua dimensi tadi dan apa pengaruhnya terhadap
persoalan-persoalan psikologis. Dia menemukan, misalnya, bahwa orang yang
mengalami gangguan fobia dan obsesif-kompulsif biasanya adalah orang introvert,
sementara orang yang mengalami gangguan keseimbagan mental (misalnya, paralisis
histerikal) atau gangguan ingatan (misalnya amnesia) biasanya adalah orang
ekstravert.
Dia menjelaskan begini: orang
neurotistik akut sangat peka terhadap hal-hal yang menakutkan. Kalau orang ini
introvert, mereka akan belajar menghindari situasi yang menyebabkan kepanikan
itu secepat mungkin, bahkan ada yang langsung panik walaupun situasinya belum
terlalu gawat –orang inilah yang mengidap fobia. Sementara orang introvert
lainnya akan mempelajari perilaku-perilaku yang dapat menghilangkan kepanikan
mereka, seperti memeriksa segala sesuatunya berulang kali atau mencuci tangan
berulang kali karena ingin memastikan tidak ada kuman yang akan membuat mereka
sakit.
Sebaliknya, orang neurotistik
yang ekstravert akan mengabaikan dan cepat melupakan hal-hal yang menakutkan
mereka. Mereka memakai mekanisme pertahanan klasik, seperti penolakan dan
represi. Mereka dengan mudah akan melupakan, misalnya akhir pekan yang buruk.
3. Psikotisme
Orang yang skor psikotisisme-nya
tinggi memiliki trait agresif, dingin, egosentrik, tak pribadi, impulsif,
antisosial, tak empatik, keatif, keras hati. Sebaliknya orang yang skor
psikotisismenya rendah memiliki trait merawat/baik hati, hangat, penuh
perhaitan, akrab, tenang, sangat sosial,empatik, kooperatif, dan sabar. Seperti
pada ekstraversi dan neurotisisme, psikotisisme mempunyai unsur genetik yang
besar. Secara keseluruhan tiga dimensi kepribadian itu 75% bersifat herediter,
dan hanya 25% yang menjadi fungsi lingkungan. Seperti pada neurotisisme,
psikotisisme juga mengikuti model stres-diatesis (diathesis-stress model).
Orang yang variabel psikotismenya tinggi tidak harus psikotik, tetapi mereka
mempunyai predisposisi untuk mengidap stress dan mengembangkan gangguan
psikotik. Pada masa orang hanya mengalami stress yang rendah, skor P yang
tinggi mungkin masih bisa berfungsi normal, tetapi ketika mengalami stress yang
berat, orang menjadi psikotik yang ketika stress yang berat itu sudah lewat
fungsi normal kepribadian sulit untuk diraih kembali.
Psikotisme, dapat digabung
bersama-sama dengan neurotisisme dan ekstraversi, menjadi bentuk tiga dimensi.
Tiga garis yang saling berpotongan ditengah-tengah dan saling tegak lurus,
menggambarkan hubungan antara ketiga dimensi itu. Setiap individu dapat
digambarkan dalam sebuah titik pada ruangan yang diantarai oleh tiga garis
dimensi itu.
Menurut Eysenck dan Gudjonsson,
ada korelasi negatif antara androgen (testoterone) dengan CAL. Androgen
dihasilkan oleh kelenjar adrenal kelamin laki-laki (testis) dan kelenjal
adrenal perempuan (ovarium). Semakin tinggi androgen anak, semakin rendah CAL.
Akibatnya muncul sifat-sifat maskulinitas, seperti tingkahlaku agresi. Secara
hipotesis, hormon androgen menjadi mediator hubungan antara CAL yang rendah
dengan kriminalitas.
Kecerdasan
Eysenck sesungguhnya ingin
memasukkan kecerdasan sebagai dimensi keempat dari kepribadian. Seperti tiga
dimensi yang lain, kecerdasan lebih banyak dipengaruhi oleh keturunan. Namun
penelitian disekitar kecerdasan masih belum dapat mengelaborasi faktor kecerdasan
itu dengan keseluruhan kepribadian manusia. Banyak kontroversi tentang hubungan
antara kecerdasan dengan ras, yang belum terselesaikan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
KESIMPULAN
Kepribadian adalah
keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu
lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa
diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.
Para ahli tampaknya
masih sangat beragam dalam memberikan rumusan tentang kepribadian. Dalam suatu
penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall
dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian
yang berbeda-beda.
Berangkat dari studi
yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang
dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah
organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang
menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
Kata kunci dari
pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider (1964) mengartikan
penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat
behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam
diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara
keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma)
lingkungan.
B.
SARAN
Demi kesumpurnaan
makalah ini, penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat
menbangun kearah kebaikan demi kelancaran dan kesumpurnaan penulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
http://adhisusilokons.wordpress.com/2010/05/18/aplikasi-teori-kepribadian-carl-rogers/